Berita Nasional
Teror Terhadap Influencer Sama dengan Pelecehan Korban Banjir Sumatra
Tindakan teror terhadap aktivis dan influencer adalah pelecehan terhadap korban bencana Sumatra.
TRIBUNNEWSDEPOK-Tindakan teror terhadap aktivis dan influencer adalah pelecehan terhadap korban bencana Sumatra.
Pasalnya para influencer dan aktivis tersebut mendapatkan teror usai vokal membela korban banjir Sumatra yang belum kunjung mendapatkan akses bantuan dari negara.
Pernyataan itu disampaikan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
YLBHI menyoroti aksi teror yang dialami sejumlah aktivis dan influencer, beberapa waktu terakhir.
Mereka yang mengalami teror di antaranya Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, kreator konten Ramond Dony Adam alias DJ Donny, kreator konten Sherly Annavita, aktor Yama Carlos, dan aktivis sekaligus konten kreator Virdian Aurellio.
Ketua Umum YLBHI Muhammar Isnur mengatakan teror ini sebagai bukti penyelenggara negara gagal untuk mendengarkan dan juga mengurai aspirasi kritis warga negara dan menormalisasi bentuk-bentuk tindakan yang mengabaikan suara publik dalam penanganan bencana dan sejumlah isu publik lainnya.
Padahal, kata Isnur, kepedulian dari warga yang kritis terhadap kondisi masyarakat terdampak bencana di Sumatera adalah sebuah ekspresi solidaritas dan tanggung jawab yang menunjukkan kecintaan dan keberpihakan mereka terhadap warga negara yang mengalami duka dan luka.
Sehingga menurutnya, tindakan teror ini sama saja dengan pelecehan terhadap para korban bencana yang belum mendapatkan akses bantuan.
"Tindakan teror dan intimidasi kepada mereka yang kritis adalah sebuah pelecehan terhadap semangat gotong royong dan usaha untuk memulihkan situasi bencana dan juga membantu masyarakat yang sampai sekarang masih belum mendapatkan akses terhadap bantuan pasca bencana," ujar Isnur seperti dimuat Tribunnews.com dalam Kamis (1/1/2026).
Isnur juga menjelaskan serangan atau intimidasi terhadap warga yang kritis dan pemengaruh di media sosial adalah sebuah serangan terhadap nilai demokrasi dan kemerdekaan menyampaikan pikiran dan pendapat yang dijamin oleh konstitusi dan regulasi.
Isnur menilai, serangan ini menunjukkan dua kegagalan penyelenggara negara untuk menjaga dan melindungi warga negara.
Ia juga menyoroti sejumlah korban teror dan intimidasi merupakan individu yang lantang dalam menyampaikan kondisi, fakta dan pandangannya terkait dengan lambannya pemerintah dalam merespon dan menanggulangi bencana yang ada di Sumatera.
Isnur juga menyayangkan pemerintah yang terkesan bungkam dengan aksi intimidasi yang dialami oleh para aktivis dan influencer tersebut.
"Penyelenggara negara telah membiarkan serangan teror dan intimidasi terjadi tanpa ada respon dan sikap yang tegas untuk menghukum para pelaku teror dan intimidasi," kata Isnur.
Sejumlah influencer dan aktivis Greenpeace mendapatkan teror usai mengkritik penanganan banjir Sumatra dan industri sawit yang membuat banjir besar di Sumatra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kayu-warga.jpg)