Senin, 8 Juni 2026

Demo di DPR

Driver Ojol Tewas Terlindas Mobil Rantis Polisi, Ini Analisa Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri

Menanggapi hal itu, Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri memberikan analisa  peristiwa tersebut. 

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: murtopo
Tangkapan Layar YouTube Baitul Maal Hidayatullah
OJOL MENINGGAL - Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri memberikan analisa kasus pengemudi ojol terlindas kendaraan rantis polisi. (Tangkapan Layar YouTube Baitul Maal Hidayatullah) 

Laporan wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, TANAH ABANG - Seorang pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri pada Kamis (28/8/2025) malam.

Peristiwa nahas tersebut terjadi, saat massa demonstrasi ricuh dan bentrok dengan polisi di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Menanggapi hal itu, Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri memberikan analisa  peristiwa tersebut. 

“Sebagai pelanggan setia ojek online, jelas ini peristiwa yang sangat menyedihkan. Begitu pula, membayangkan suasana batin pengemudi rantis saat ini, pilu hati saya,” kata Reza dalam keterangannya yang diterima TribunnewsDepok.com, Jumat (29/8/2025).

Baca juga: Kendaraan Taktis Brimob Tabrak Driver Ojol di Pejompongan, Korban Dikabarkan Tewas

Untuk menggambarkan peristiwa pengemudi ojol terlindas kendaraan taktis polisi, Reza memaparkannya dalam 7 situasi, sebagai berikut:

1. Riset menemukan, polisi juga bisa merasa kecemasan tinggi. Apalagi dalam situasi kerumunan yang kacau, ketegangan sangat mungkin meninggi.

2. Rantis bergerak dengan kecepatan yang masih bisa pengemudi kendalikan. Tapi tabrakan tak terhindarkan. Mengapa? 

3. Dalam situasi seramai itu, pengemudi tidak bisa berfokus semata-mata lurus ke depan. Pergerakan massa dalam jumlah besar secara acak menyebar, membuat pengemudi harus menyapu pandangannya ke banyak titik untuk menghindari tabrakan. 

4. Menjelang momen tabrakan, demonstran berjaket hitam (lingkaran merah) secara sekaligus berada pada jarak terdekat dengan demonstran berjaket hijau (lingkaran biru) dan rantis. Kedua demonstran itu bergerak dengan posisi tubuh, pola, dan kecepatan yang berbeda satu sama lain. 

5. Secara bertahap, rantis terlebih dahulu harus menghindar dari demonstran berjaket hitam. Dalam tempo sangat singkat, pengemudi hanya punya satu kemungkinan:  spontan ke kiri. Adaptasi pengemudi sudah tepat. 

6. Namun pada tahap berikutnya, tabrakan dengan demonstran berjaket hijau tidak terhindarkan. Rantis bergerak konstan (sama), sementara demonstran berbaju hijau tidak sama (posisi tubuh, pola, dan kecepatan) dengan demonstran berbaju hitam. Adaptasi pengemudi meleset, padahal adaptasi itu berhasil sesaat sebelumnya. 

7. Rantis berhenti sesaat setelah terjadi tabrakan. Ini mengindikasikan sesaat setelah terjadinya benturan, pengemudi masih cukup mampu mengendalikan diri, baik kendali oleh diri sendiri maupun oleh penumpang rantis.

8. Rantis kemudian bergerak. Ini manifestasi flight sebagai akibat kepanikan.

Baca juga: Kapolri Minta Maaf Anggotanya Tabrak dan Lindas Driver Ojol Hingga Tewas di Pejompongan

“Jadi, dua kondisi psikis pengemudi dalam situasi 1-7: fear dan miskalkulasi pada saat mengantisipasi dua demonstran yang berbeda (tidak konstan),” ungkapnya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved