Lebaran Depok 2026
Lebih dari Sekadar Tradisi, Ini Filosofi 'Ngaduk Dodol' di Lebaran Depok
Lebih dari Sekadar Manis: Filosofi 'Ngaduk Dodol' di Lebaran Depok 2026 yang Mengikat Kebersamaan
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, TAPOS –Tradisi Ngaduk Dodol kembali menjadi primadona dalam perhelatan Lebaran Depok 2026 di Danau Cimanggis Golf Estate (CGE), Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok pada Selasa (5/5/2026).
Wali Kota Depok, Supian Suri, bersama Ketua TP-PKK Kota Depok, Siti Barkah Hasanah, dan Ketua DPRD Kota Depok, Ade Supriyatna, tampak tak segan turun tangan memegang pengaduk kayu besar.
Aroma legit gula merah dan gurihnya santan menyeruak di udara Kota Depok saat dodol diaduk-aduk di dalam tiga kuali besar yang disediakan panitia.
Namu dibalik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis, tersimpan perjuangan fisik dan kesabaran luar biasa dalam mengaduk dodol di kuali besar (kenceng).
Baca juga: Ade Supriyatna Ulik Makna Filosofis Tradisi Lebaran Depok, Cerminan Nilai-nilai Luhur pada Leluhur
Warisan Kesabaran dari Subuh hingga Maghrib
Membuat dodol bukanlah perkara mudah. Sekretaris Umum Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Nina Suzana, mengatakan proses pembuatan kuliner legendaris ini membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.
Menurut Nina, proses pembuatan dodol yang enak memerlukan waktu hingga 9 jam tanpa henti. Ketelatenan dimulai sejak pemilihan bahan sederhana seperti tepung ketan, gula merah, santan, garam, dan tanpa pengawet.
“Ngaduk dodol itu susah mulai dari marut kelapa, peras santannya, lalu ketannya diadonin sampe nggak ada brinjilannya baru deh dimasak harus 8-9 jam, kalau nggak begitu nggak mateng,” jelas Nina seperti dikutip berita.depok.go.id, Selasa (5//5/2026).
Nina menambahkan bahwa pada zaman dahulu, keberadaan dodol di meja tamu merupakan simbol status sosial.
“Dahulu hanya orang kaya yang memiliki uang lebih di rumahnya ada dodol saat Lebaran,” ungkapnya.
Kini, tradisi ini mulai langka, sehingga Pemkot Depok dan KOOD berkomitmen memasukkannya dalam agenda rutin tahunan.
“Generasi muda kudu tahu susahnya ngaduk dodol makanya itu kenapa harganya mahal. Semoga lewat acara Lebaran Depok masyarakat semakin mengenal tradisi budaya daerahnya,” tutur Nina.
Filosofi Ngaduk Dodol, lanjut Nina, mengajarkan kita bahwa hasil yang manis hanya bisa didapat melalui kerja keras, kesabaran, dan kekompakan.
"Di tengah pesatnya pembangunan Kota Depok, kuali-kuali dodol ini tetap mengepul, menjaga identitas budaya agar tetap relevan bagi generasi mendatang," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Ngaduk-dodol-di-Lebaran-Depok-2026.jpg)