Selasa, 9 Juni 2026

Iran VS Israel

Presiden Iran Sebut Negaranya Tak Akan Melancarkan Serangan, Kecuali Diserang Duluan

Pezeshkian juga mengatakan Iran terbuka untuk dialog dan akan melindungi kepentingan rakyat Iran di meja perundingan.

Tayang:
Editor: murtopo
Canva/Tribunnews.com
PERANG IRAN-ISRAEL - Ilustrasi perang Iran-Israel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pihaknya tak akan melancarkan serangan, kecuali Israel menyerang lebih dahulu. (Canva/Tribunnews.com) 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Nuri Yatul Hikmah

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, TEHERAN — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pihaknya tak akan melancarkan serangan, kecuali Israel menyerang lebih dahulu.

Hal itu disampaikan Pezeshkian kepada media dan dilaporkan oleh media Nournews Iran, dikutip dari Aljazeera.com, Selasa (24/6/2025).

Pezeshkian juga menyatakan bahwa Iran terbuka untuk berdialog dan akan melindungi kepentingan rakyat Iran di meja perundingan, menurut laporan media Nournews Iran.

"Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran akan menghormati gencatan senjata dengan Israel selama Israel juga melakukannya," demikian laporan Ali Hashem, reporter Al-jazeera.com yang melaporkan dari Teheran, Iran.

Baca juga: Israel Setujui Usulan Gencatan Senjata Trump, Iran Nyatakan Tidak Ada Penghentian Operasi Militer

Pezeshkian juga mengatakan Iran terbuka untuk dialog dan akan melindungi kepentingan rakyat Iran di meja perundingan.

Sementara itu, dalam sebuah konferensi pers, James Jeffrey selaku Mantan Duta Besar AS untuk Iran meminta kepada masyarakat agar percaya bahwa Presiden Amerika Serkat Donald Trump, bukanlah sosok yang ingin mengganti rezim.

Padahal sebelumnya, Trump terang-terangan menyebut jika Iran saat ini dipimpin oleh rezim yang lemah.

"Trump dilaporkan mengatakan kepada pihak Israel, 'Jangan serang Pemimpin Tertinggi Iran, kita butuh seseorang untuk diajak bernegosiasi'," ucap James, Selasa.

Baca juga: Iran Nyatakan Serangan ke Pangkalan Amerika Serikat Al Udeid Tidak untuk Mengancam Rakyat Qatar

Menurutnya, orang-orang di sekeliling Trump bukanlah tipe pendukung perubahan rezim.

Pasalnya, mereka sudah mengalami sendiri betapa mengerikannya pengalaman perubahan rezim di Irak dan Afghanistan saat mencoba melakukan itu.

"Dan kita memang tidak ahli dalam hal tersebut. Selalu saja berantakan di lapangan," ungkapnya. 

James lantas mengulas sejarah lama di 50 tahun terakhir di Vietbam, di mana dirinya menyaksikan belasan gencatan senjata, namun seluruhnya kacau.

Di mana, pasukan militer tetap mendapat perintah penyerangan di waktu-waktu yang salah dan tidak sinkron.

"Apa yang sekarang terjadi ini, ya, kebingungan seperti ini adalah hal yang normal. Tapi yang jelas, situasinya sedang bergerak ke arah yang sangat, sangat positif," katanya.

Baca juga: Qatar Kutuk Serangan Iran ke Pangkalan AS Al-Udeid, Klaim Tak Ada Korban Luka dan Kerusakan

James menyebut, masalah yang besar terjadi akibat Israel, di mana pemimpinnya yakni Benjamin Netanyahu memiliki karakter keras.

"Tapi Trump akan memperjelas bahwa dia telah memberikan jasa besar kepada Netanyahu – dengan melakukan pemboman di Fordow, seperti yang Netanyahu inginkan – dan dia tidak akan menerima jawaban "tidak"," pungkasnya. (m40)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved