Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Video

VIDEO : Habib Muchsin Achmad Al Attas Tuding Setara Institut Disponsori Negara Asing

Berdasarkan penilaian Indeks Kota Toleran yang dirilis Setara Institut pada 2022, Depok berada di urutan kedua dari 94 kota

Tayang:
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Alex Suban

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Depok dinilai sebagai kota paling intoleran di Indonesia menurut penilaian Setara Institut.

Berdasarkan penilaian Indeks Kota Toleran yang dirilis Setara Institut pada 2022, Depok berada di urutan kedua dari 94 kota dengan skor toleran paling rendah.

Menanggapi penilaian itu, mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok Habib Muhsin Ahmad Al Attas mengatakan stigma itu sebetulnya sudah tidak ada lagi.

"Sebetulnya stigma itu sudah tidak ada lagi tetapi mungkin tidak banyak yang mengikuti media," kata Habib Muchsin, Sabtu (8/4/2033).

Simak Video Berikut :

Kota dengan tingkat toleransi paling rendah ditempati Kota Cilegon dengan skor 3,227 (urutan 94) diikuti Kota Depok 3,610 (urutan 93),  Padang 4,060 (urutan 92), Sabang 4,257 (urutan 91), Mataram 4,387 (urutan 90).

Berikutnya Banda Aceh dengan skor 4,393 (urutan 89), Medan 4,420 (urutan 88), Pariaman 4,450 (urutan 87), Lhokseumawe 4,493 (urutan 86), dan Prabumulih 4,510 (urutan 85).

Penilaian tersebut berdasarkan 8 indikator penilaian, yaitu rencana pembangunan, kebijakan diksriminatif, peristiwa intoleransi, dinamika masyarakat sipil, pernyataan publik Pemkot, tindakan nyata Pemkot memajukan toleransi, heterogenitas agama, serta inklusi sosial agama.

Baca juga: Kota Depok Masuk Kategori Kota Intoleran Versi SETARA, Ini Jawaban Wali Kota Mohammad Idris

Baca juga: Depok Dicap Kota Paling Intoleran di Indonesia, Ini Kata Ketua FKUB Kota Depok Abdul Ghani

Menurut Habib Muhsin Ahmad Al Attas , penilaian itu berasal dari sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yaitu Setara Institut.

"Setara Institut itu LSM yang disponsori negara-negara barat. Saat itu memang lagi maraknya anti Islam dan Islamphobia karena maraknya terorisme," ujarnya.

Dia menambahkan terorisme saat ini menjadi stigma hanya untuk Islam.

"Orang non Islam yang melakukan kejahatan tidak anggap terorisme tetapi hanya kejahatan biasa. Kita sebagai negara dunia ketiga terbawa oleh stigma itu," tutur Habib Muchsin.

Sebelum mengeluarkan penilaian soal Depok kota intoleran, lanjut dia, Setara Institut mengeluarkan hasil penelitian ada 80 masjid di Depok yang terindikasi sebagai pusat terorisme dan radikalisme.

Baca juga: Hasil Survei Sebut Depok Merupakan Kota Intoleran, Ridwan Kamil: Kesimpulan yang Prematur

"Ketika kita kejar, tidak ada bukti. Mirisnya, hasil penelitian abal-abal ini menjadi pijakan bagi aparat penegak hukum di kepolusian dalam membuat kebijakan," ungkapnya.

Menurut Habib Muchsin, ketika pihaknya menanyakan soal cap kota intoleransi ini ternyata yang dimaksudkan lebih kepada kebijakan pemerintah daerah.

"Kalau yang dimaksudkan intoleran itu kebijakan pemda maka itu bukan intoleransi tetapi diskriminasi," ucapnya.

Dia menjelaskan intoleran itu mengenai kerukunan antar agama, bukan kebijakan pemerintah daerah.

"Jangan dibilang Kota Depok intoleran tetapi katakan saja pemerintah Kota Depok agak diskriminatif," tegas Habib Muchsin.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved