Senin, 13 April 2026

Memilih Damai

Meutia Hatta: Jika Ingin Jadi Pejabat, Harus Tau UUD 1945 dan Pancasila 

Meutia mengatakan, bahwa jika tokoh politik ingin menjadi pejabat, harus mengetahui soal Undang - Undang 1945 dan Pancasila. 

Penulis: Alfian Firmansyah | Editor: murtopo
Wartakotalive.com/Alfian Firmansyah
Meutia Hatta di acara Talkshow Series Memilih Damai dengan tema Membedah Genealogi Presiden dari Masa ke Masa yang digelar di Universitas Al-Azhar, Jakarta Pusat, Kamis (8/12/2022). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Alfian Firmansyah 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Talkshow Series Memilih Damai dengan tema "Membedah Genealogi Presiden dari Masa ke Masa digelar di Universitas Al-Azhar, Jakarta Pusat, Kamis (8/12/2022).

Sebagai informasi, Pembawa acara dibawakan oleh Paramitha Soemantri dan  Pemimpin Redaksi Warta Kota Domu Ambarita sebagai Moderator. 

Selanjutnya, Narasumber yang hadir yaitu Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti, Dekan FISIP Universitas Indonesia Semiarto Aji Purwanto, Dekan FISIP Universitas Al-Azhar Heri Herdianto, Peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu dan Meutia Hatta yaitu Putri dari  Muhammad Hatta.

Kemudian, Salah satu narasumber yang hadir yaitu Putri proklamator Mohammad Hatta, Meutia Hatta.

Meutia mengatakan, bahwa jika tokoh politik ingin menjadi pejabat, harus mengetahui soal Undang - Undang 1945 dan Pancasila. 

"Kami melihat Pancasila itu adalah nilai budaya, kebudayaan nasional, Dan kebudayaan nasional itu, adalah kebudayaan yang digunakan orang Indonesia, warga negara untuk berinteraksi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Meutia di Universitas Al-Azhar, Jakarta Pusat, Kamis (8/12/2022).

Selain itu, Meutia juga menyebutkan tentang warisan yang diberikan kepada anak-anaknya.

Baca juga: Talkshow Memilih Damai, Meutia Hatta Ungkap Alasan Proklamator Mohammad Hatta Tak Mau Menikah

" Warisannya adalah orang Indonesia harus menjadi tuan di negeri sendiri,"ujar Meutia 

Meutia juga menyampaikan, bahwa warisan Bung Hatta lainnya adalah memikirkan dan menghormati orang kecil.

Karena, tanpa orang kecil sebuah bangsa atau perusahaan tidak akan berarti.

"Salah satu contoh yang diberikan Bung Hatta adalah jangan menawar saat membeli buah di tukang buah. Sebab, hal itu tidaklah manusiawi," tutur Meutia.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved