IPB University

Dosen IPB University Dr Yopi Novita: Sebenarnya Masih Banyak Pahlawan Wanita Indonesia Lainnya

Departemen PSP IPB University bekerjasama dengan FK2PT gelar diskusi buah pikir perempuan untuk Perikanan Tangkap Indonesia.

Editor: dodi hasanuddin
Dok. IPB Unversity
Dosen IPB University Dr Yopi Novita: Sebenarnya Masih Banyak Pahlawan Wanita Indonesia Lainnya. 

Saat ini sudah ada kesetaraan dan keadilan gender dimana terlihat dari nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan angka harapan hidup perempuan yang semakin meningkat.
 
Perempuan melakukan peran ganda pekerjaan domestik dan produktif dalam budidaya rumput laut, namun dalam hal-hal tertentu keberadaan perempuan masih diabaikan.

"Perubahan perlu dilakukan, ia menyoroti, disini pentingnya pendidikan untuk perubahan sikap, perilaku, nilai-nilai pada individu, kelompok dan masyarakat," tutur Dr Marcelien.
 
Prof Aristi Dian Purnama Fitri, Wakil Dekan FPIK Universitas Diponegoro, menyampaikan tentang Ilmu Eto-Ekofisiologi Ikan sebagai Basis dalam Pengembangan Alat Tangkap.

Baca juga: Putra Ahok Nicholas Sean Tutup Rapat Pintu Damai, Kuasa Hukum Serahkan Kasus ke Pengadilan

Ia menerangkan bahwa keilmuan Eto-Fisiologi telah banyak dimanfaatkan untuk pengembangan alat tangkap dan alat bantu yang ramah lingkungan.
 
“Teknologi penangkapan ikan dikembangkan dengan memanfaatkan tingkah laku ikan. Ikan memiliki tingkah laku yang berbeda, terkait dengan respons dan sifat karakteristik fisiologi ikan (organ penglihatan, penciuman, pendengaran dan elektromagnetik) dalam lingkungan laut seperti suhu, salinitas, dan lainnya,” kata Prof Aristi.
 
Prof Aristi memberikan contoh beberapa alat tangkap dan alat bantu penangkapan ikan yang dimodifikasi dengan memanfaatkan Eto-fisiologi ikan.

Modifikasi teknologi dilakukan dalam rangka mengefektifkan untuk jenis ikan yang dituju dan menghindari ikan yang dilindungi.

"Perempuan bisa turut berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perikanan tangkap," paparnya.


Putuh Suadela, MESM, Koordinator Pengelolaan Zona Eksklusif Ekonomi Indoneia  (ZEEI) dan Laut Lepas Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memaparkan materi Partisipasi Indonesia di Regional Management Fisheries Organization (RMFO).

Putuh banyak berperan aktif sebagai delegasi Indonesia di RMFO. Ia menyebut, keikutsertaan Indonesia di RMFO menjadi penting untuk memperjuangkan hak-hak Indonesia terkait dengan perikanan tuna Indonesia.
 
Konvensi UNCLOS 1982 mengamanatkan,  pemanfaatan spesies beruaya jauh yaitu ikan tuna dan sejenisnya wajib dilakukan melalui kerjasama internasional.

Konvensi tersebut memutuskan bahwa negara bukan anggota RMFOs tidak berhak untuk memanfaatkan ikan tuna. Indonesia sendiri telah menjadi anggota penuh di Indian Ocean Tuna Commission, Western and Central Pacific Fisheries Commission, Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna; dan cooperating non-members di Inter-American Tropical Tuna Commission.

Baca juga: Gara-Gara Petasan, Sebuah Pohon di Taman Hutan Raya Depok Kebakaran

Dr Ersti Yulika Sari, Dekan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) membawakan materi tentang Memberi Peran Perempuan di Pengembangan Perikanan Tangkap Berkesinambungan Berbasis Kepulauan.

Ia menyebut, selama ini peran perempuan isteri-isteri nelayan masih kurang.

Menurutnya, peran perempuan perlu ditingkatkan melalui perubahan secara perlahan terhadap pemahaman lama (budaya chauvinistic) dan peningkatan pengetahuan.
 
“Perempuan dapat berperan penting dalam pemulihan ekonomi keluarga melalui keterlibatannya dalam proses produksi. Perempuan juga dapat berperan penting dalam pengambilan keputusan, pengelolaan keuangan, penentuan target tangkapan, penentuan harga dan keputusan strategis lainnya,” pungkas Dr Ersti. 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved