Berita Nasional
Kabar Baik, Katak Bertanduk Jawa Langka Ditemukan di Pengunungan Sanggabuana Karawang
Kabar Baik, Katak Bertanduk Jawa Langka Ditemukan di Pengunungan Sanggabuana Karawang
"Ukuran katak bertanduk jantan lebih kecil, untuk ukuran yang betina bisa 4 kali lebih besar dari ukuran katak bertanduk jantan. Katak jenis ini sulit sekali ditemukan habitatnya," terang Deby.
Baca juga: Terjerat Kasus Binomo, Polisi Sita 10 Jam Tangan Mewah Ayah Vanessa Khong Senilai Rp 8 Miliar
Baca juga: Pemerintah Perbolehkan Mudik Lebaran, Pemudik Diminta Tanggung Jawab Cegah Penyebaran Covid-19
Walaupun kebeadaannya sudah susah ditemui, katak bertanduk jawa tidak masuk dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, dan dalam IUCN (The International Union for Conservation of Nature's Red List of Threatened Species) masuk dalam kategori Least Concern (LC) atau tingkat resiko rendah.
Untuk itu, Bernard T. Wahyu Wiryanta, fotografer dan peneliti satwa liar yang merupakan dewan pembina SCF yang sudah sejak 2020 mendata flora-fauna di Sanggabuana menanggapi temuan katak bertanduk ini secara positif. Menurut Bernard, banyak flora-fauna di Sanggabuana yang berlum teridentifikasi.
Tiap hari, tim eksplorasi selalu pulang dari hutan membawa temuan-temuan baru. Dan selalu dilaporkan ke BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Jawa Barat dan KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).
“Ini semakin memperkaya database keanekaragaman hayati Pegunungan Sanggabuana. Dan eksplorasi oleh Tim SCF ini merupakan bagian dari penyusunan pra kajian terkait usulan perubahan status kawasan Pegunungan Sanggabuana menjadi Taman Nasional," tambah Bernard.
Dia berharap temuan-temuan ini segera direspon oleh para pemangku kebijakan.
Sebab, javan horned frog ini memang tidak masuk di daftar satwa yang dilindung sesuai Permen 106, tapi populasinya memang sudah jarang.
Katak bertanduk ini, jika ditemukan di Sanggabuana menjadi indikator positif, karena keberadaan katak ini sering dijadikan indikator lingkungan. Kalau masih ada katak bertanduk berarti ekosistemnya masih bagus. Paling tidak ini menjadi indikator juga untuk upaya pelestarian dan perlindungan yang dikerjakan SCF berada dijalur yang benar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Asian-Spadefoot-Toad-atau-Katak-Bertanduk-Jawa.jpg)