Kriminalitas
Seorang Pemuda Kota Bambu Tewas di Tangan Pemuda Jati Pulo, Kawan Korban : 'Darah Dibayar Darah'
Seorang Pemuda Kota Bambu Tewas di Tangan Pemuda Jati Pulo, Teman Korban : 'Darah Dibayar Darah'. Berikut Selengkapnya
Mereka mengenakan baju koko dan peci untuk lelaki yang duduk di kursi dan sore, ada juga yang tak mengenakan baju muslim tapi mengenakan peci saja.
Sedangkan pelayat perempuan kebanyakan mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan hijabnya, meski hanya sekedar menempel di kepala.
Baca juga: Gara-gara Rusuh Bangunin Sahur, Tawuran Pecah di Palmerah-Satu Pemuda Tewas & Dua Orang Terluka
Baca juga: Anies Baswedan Pastikan Jakarta Tetap Miliki Keistimewaan meski IKN Dipindah
Raut wajah sedih terlihat dikerumunan ibu-ibu, teman dan tetangganya di depan rumah pemuda kelahiran Jakarta 21 September 2002 silam.
Irsyad Muchtar warga sekitar mengatakan, tawuran antara Kota Bambu Utara dan Jati Pulo sudah terjadi sejak tahun 1980an.
Sehingga aksi ini sudah menjadi tradisi turun menurun dan terkadang orang tua dari kedua kelompok juga ikut membela anaknya.
"Kalau tulisan darah dibayar darah itu kan dari warga Kota Bambu Utara karena warga sini enggak ada yang tawuran, ya kita enggak tahu apakah bakalan ada serangan balik atau tidak" ucapnya.
Menurutnya, pemuda dan remaja di wilayahnya sering bermain di Kota Bambu Utara karena kebetulan dekat dari rumah.
Sehingga di wilayahnya sangat aman dari aksi tawuran, tapi karena berteman satu sekolahan maka sering diajak untuk ikut tawuran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Pesan-ancaman-darah-dibayar-darah.jpg)