Rabu, 22 April 2026

Rektor IPB Arif Satria Bicara Ketahanan Pangan, Ini Solusi yang Ditawarkan

Menurut rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si, pihaknya memiliki inovasi-inovasi yang bisa menjadi solusi di tengah krisis ketahanan pangan.

Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo
Tribunnewsdepok.com/Hironimus Rama
Rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DRAMAGA - Di awal tahun 2022 ini, masyarakat menghadapi masalah ketahanan pangan mulai dari minyak goreng, tahu, dan tempe yang sulit ditemukan serta kenaikan harga gula pasir dan daging sapi.

Khusus minyak goreng, persoalan ini tak kunjung usai sejak tahun lalu meski pemerintah mengguyur subsidi dan mengatur pasokan dalam negeri.

Institut Pertanian Bogor (IPB) ikut menyoroti permasalahan ketahanan pangan tersebut.

Menurut rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si, pihaknya memiliki inovasi-inovasi yang bisa menjadi solusi di tengah krisis ketahanan pangan.

"Soal ketahanan pangan itu, saya pikir salah satu solusinya adalah bagaimana inovasi-inovasi yang ada di kampus dan lembaga penelitian dipercepat proses hilirisasinya," kata  Arif Satria dalam wawancara eksklusif dengan pemimpin redaksi Warta Kota Domu D Ambarita  belum lama ini.

Dia mengambil contoh masalah kelangkaan tempe karena kurangnya pasokan bahan baku berupa kedelai bulan lalu.

"Saya pikir soal kedelai ini, kita butuh inovasi-inovasi unggul. IPB sudah punya teknik budidaya yang bisa menghasilkan 4,6 ton per hektare. Sedangkan rata-rata nasional itu 1,5 ton per hektare, artinya kami tiga kali lipat," ujarnya.

Menurut Arif, kalau inovasi-inovasi dari kampus ini semakin banyak dikembangkan, maka produksi kedelai akan bisa terdongkrak.

Baca juga: Rektor IPB Apresiasi Program Petani Milenial Besutan Kang Emil, Bandingkan Indonesia dengan Jepang

"Namun problem kedelai di kita adalah meskipun produksi bisa tinggi, tetapi pasar merespons dengan harga yang tidak menggiurkan sehingga petani-petani kita lebih cenderung menanam tanaman lain dari pada kedelai," tuturnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, IPB mempunyai alternatif lain untuk menggantikan kedelai yaitu kacang tunggak.

"Kami sudah bisa membuat kacang tunggak itu menjadi lebih putih, jadi mirip kedelai. Kacang tunggak bisa menjadi subtitusi kedelai," jelas Arif.

Baca juga: Apresiasi Program Petani Milenial, Rektor IPB Arif Satria: Kekuatan Bangsa Terletak pada Pangan

Mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) ini menambahkan sebenarnya banyak sekali produk-produk substitusi yang bisa dihasilkan di Indonesia, sehingga tidak terlalu harus bergantung kepada satu jenis produk.

Kalau kedelai langka, maka ada kacang tunggak yang bisa diproduksi dengan sistem tumpang sari dan bisa ditingkatkan produktivitasnya.

"Kami bisa memproduksi tempe dari kacang tunggak dengan rasa yang hampir sama dengan tempe dari kedelai. Karena itu, sebenarnya kita tidak perlu khawatir tentang masa depan tempe karena banyak produk-produk substitusi yang bisa dihasilkan," tutur Arif.

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Pangan, Ridwan Kamil Wisuda 1.249 Petani Milenial di IPB University

IPB juga mempunyai inovasi lainnya untuk ketahanan pangan yaitu IPB3S yang bisa menghasilkan 12 ton padi per hektare dan IPB 9G untuk padi gogo lahan kering yang bisa hasilkan 12 ton per hektare.

Tetapi problemnya, menurut Arif, adalah bagaimana memproduksi benih supaya diterima petani dan bisa ditanam.

"Tugas perguruan tinggi saat ini adalah fokus pada SDM dan inovasi. Untuk hilirisasi, kami tidak bisa sendiri. Kita harus bersama-sama dengan pemerintah, pengusaha, dan petani," tegasnya.

Arif menjelaskan bahwa sebenarnya Indonesia punya banyak kekayaan intelektual yang perlu terus didorong hilirisasinya, tetapi pada akhirnya orang lebih suka impor.

"Politik kita ini seharusnya berpihak pada politik rezim produksi, jangan rezim perdagangan. Jika komoditas diproduksi dari kita semua, interaksi jam kerja kita jadi tinggi karena orang-orang produktif bekerja," ungkapnya.

Bila kita fokus pada membuat produk-produk kebutuhan dalam negeri, papar Arif, maka desa akan tumbuh pesat, petani yang terlibat banyak, dan pengangguran semakin berkurang.

"Kami harapkan bahwa fokus pada kemandirian pangan ini harus diperkuat dan Covid-19 ini menjadi momentum. Karena itu maka inovasi itu suatu keharusan dalam menjaga ketahanan pangan. Kami akan membuat banyak inovasi-inovasi di lapangan berupa hilirisasi inovasi kampus," bebernya.

Dalam rangka hilirisassi inovasi pertanian ini, IPB menggandeng Kementerian Pertanian.

"Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo-red) sudah berkali-kali ketemu saya. Alhamdulilah kami punya kerja sama dan punya kolaborasi," tambahnya.

IPB juga sering mempromosikan teknik budidaya kedelai dan padi kepada kementerian pertanian. Namun persoalannya adalah harganya tidak semurah harga yang dipatok oleh pemerintah.

"Pemerintah mematok untuk pengadaan benih itu harganya X, sementara kami di atas X, jadi harganya tidak masuk. Saya juga lagi mau negosiasi sama pak menteri, tolong harga HPP (Harga Pembelian Pemerintah-red) naikin sedikit supaya produk inovasi kami juga bisa masuk," pungkas Arif.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved