Jumat, 12 Juni 2026

Kisah Para Penjaga Kali Ciliwung: Lebih dari Sekadar Bersih-bersih Sampah

Dalam jarak satu kilometer dari basecamp, kami bisa mulung 2 ton sampah. Kebanyakan sampah rumah tangga seperti popok, pampers,dan pastik.

Tayang:
Penulis: Alex Suban | Editor: murtopo
Tribunnewsdepok/Muhamad Fajar Riyandanu
Ketua Komunitas Ciliwung Depok, Muhammad Andi saat ditemui di Basecamp KCD pada Minggu (12/12/2021), siang. 

Laporan Tribun News Depok, Muhamad Fajar Riyandanu

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Bergumul dengan sampah menjadi salah satu aktivitas yang tak mungkin dipisahkan dari Komunitas Ciliwung Depok (KCD).

Komunitas yang mendirikan basecamp di bawah jembatan Jalan Bulevard Grand Depok City ini kerap kali mengais sampah-sampah rumah tangga yang mengambang di aliran Kali Ciliwung.

"Dalam jarak satu kilometer dari basecamp, kami bisa mulung 2 ton sampah. Kebanyakan sampah rumah tangga seperti popok, pampers, bungkus Indomie dan deterjen. Karena sebagian besar sampah di Kali Ciliwung ini sampah rumah tangga," kata Ketua Komunitas Ciliwung Depok Muhammad Andi saat ditemui di Basecamp KCD pada Minggu (12/12/2021), siang.

Andi menambahkan, giat susur sungai kerap kali dilakukan tiap 2 kali seminggu.

Baca juga: Wisata Arung Jeram Depok Buka Tapi Dibatasi, Komunitas Ciliwung Fokus untuk Penanganan Banjir

Namun, lanjut Andi, intensitas mulung sampah di Kali Ciliwung lebih sering dilakukan saat musim kemarau.

Adapun giat bersih-bersih kali itu disebut dengan Bebenah Ciliwung.

"Misalnya sekarang kita bersihin, trus malamnya banjir, jadi percuma. Makanya yang efisien itu di musim kemarau dari bulan April ke September," sambung Andi.

Biasanya, sebagian sampah yang diperoleh dari giat Bebenah Ciliwung dimanfaatkan untuk menghasilkan Ecobrick.

Ecobrick merupakan botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali.

Baca juga: Jaga Lingkungan, Komunitas Anak Muda dari Trash Hero Pungut Sampah di Sungai Ciliwung

"Kalau di luar negeri sudah jadi bahan bangunan rumah, dia pengganti batu bata yang direkatkan dengan semen. Kalau di sini biasanya digunakan untuk pembuatan meja dan kursi," jelas Andi.

Saat mengunjungi markas KCD, terlihat sejumlah meja dan kursi yang terbuat dari susunan ecobrick.

Kursi itu dibuat dari limbah krat botol yang tak terpakai.

Lubang-lubang krat itu diisi oleh ecobrick yang kemudian ditutup oleh triplek tipis.

Di sana, ada sekira 3 buah kursi yang dibuat dari pengolahan ecobrick.

Pembuatan ecobrick sebetulnya cukup mudah, hanya berbekal botol plastik, sampah plastik yang sudah dibersihkan, dan satu buah tongkat kayu yang digunakan untuk memasukkan sampah plastik ke dalam botol.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Kondisi Basecamp Komunitas Ciliwung Depok Tampak Sepi, Pengunjung Dibatasi

"Jadi konsepnya itu memadatkan sampah plastik yang nanti akan jadi satu kesatuan dan jadi bahan yang keras. Biasanya bisa kita jadiin bangku dari sampah plastik bekas sampo dan makanan ringan," papar Andi.

Seluruh sampah yang berhasil didapatkan dari giat Bebenah Ciliwung memang tidak semua bisa digunakan sebagai bahan ecobrick. Sering kali, sampah-sampah tersebut selanjutnya dioper ke Dinas Kebersihan.

Selain kegiatan pengolahan sampah, KCD juga memiliki kegiatan tanam menanam di area bantaran kali. Menurut Andi, kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan warga sekitar.

"Kami rencananya mau dampingi 1 RT dulu nih.  Sebenernya ada inisiasi dari warga sendiri untuk bersih-bersih kali, maka kita fasilitasi," ujar Andi.

Andi menilai, aksi kepedulian merawat Kali Ciliwung akan lebih terjaga apabila ada kesadaran dari para warga.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, kegiatan yang muncul bukan dari inisiatif warga hanya akan berakhir tanpa adanya tindaklanjut.

"Kayak kegiatan event saja. Jadi gak akan berkepanjangan. Sama kayak kegiatan kayak maaf-maaf nih, kegiatan kedinasan. Beda kalau inisiatif dari warganya, kalau kita turun ke sana dan dalam jangka waktu tertentu kami tinggal, itu akan tetap diurusin karena itu berangkat dari keinginan warga," tutur Andi.

Kegiatan tanam menanam ini sekaligus menjadi bentuk edukasi warga perihal tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam di pinggiran kali.

Andi menjelaskan, ada tiga jenis pohon yang cocok ditanam di bantaran kali, yakni pohon Bambu, Elo, dan Akar Wangi.

"Kenapa tiga pohon ini? Karena pohon itu memiliki akar kuat yang bisa tumbuh cepat di pinggir sungai. Akar kuat ini fungsinya untuk menahan pengikisan tanah sewaktu banjir, dan antisipasi longsor," jelasnya.

Kemudian, selain kegiatan bebenah sungai dan tanam menanam, Komunitas Ciliwung Depok juga menyelenggarakan edukasi reptil seperti ular, biawak, dan berang-berang.

"Tapi kita biasanya edukasi terkait binatang yang berpotensi menimbulkan bahaya di masyarakat, misalnya ular," ucap Andi.

Kegiatan edukasi tersebut dilakukan dengan memamerkan beragam jenis ular di kotak kaca berbentuk kotak.

Jenis ular yang dipamerkan antara lain ular kobra, sanca, viper, dan ular tak berbisa seperti ular pohon.

"Kita jelasin jenis bisanya apa, efeknya gimana, cara penanganannya gimana. Kan biasanya orang ketemu ular tuh dibunuh ya. Nah itu yang kita antisipasi," ungkapnya.

Andi menduga, munculnya ular di permukiman warga disebabkan oleh pembangunan rumah yang didirikan di atas sarang ular.

Pada kesempatan tersebut, Andi mengatakan bahwa membunuh ular hanya akan menimbulkan masalah baru, yakni terganggunya siklus rantai makanan.

Semakin banyak ular yang dibunuh, maka populasi binatang hama seperti tukis akan melonjak tinggi.

"Karena ular pemangsa tikus, dan untuk mengantisipasi tikus sebetulnya gak perlu beli racun tikus, cukup menjaga ekosistem alam, maka sudah terfilterisasi secara alami," kata Andi.

Penanganan ular pun sebenarnya cukup mudah. Menurut Andi, ular hanya akan menyerang apabila dirinya merasa terancam.

Guna mengevakuasi ular yang masuk rumah, Andi menyarankan untuk menyediakan sarung atau kantung bekas yang dibuka lebar dengan satu bagian yang diikat atau ditutup.

"Secara ilmiah dia masuk sendiri ke situ. Ular sebenernya kalau melihat manusia takut dan bakal kabur, mereka menyerang kalau dalam posisi terancam saja," jelas Andi.

Ia menambahkan, seekor ular kemungkinan tak akan menyerang objek yang begerak.

Hal ini terjadi karena ular melihat dan bergerak karena adanya sensor gerak  di dalam tubuhnya.

Andi juga menilai, mengusir ular dengan cara menaburkan garam di area tertentu adalah tindakan yang sia-sia.

"Sebenarnya mau ditaruh sebanyak apa pun itu ular pasti akan lewat-lewat saja, karena ular itu kulitnya bersisik, nah garam ini gak akan menyentuh area dagingnya. Kecuali kalau hewan-hewan moluska seperti keong, lintah, itu baru kena," pungkas Andi. (M29)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved