Rabu, 3 Juni 2026

Mahasiswa UI

Universitas Indonesia Keempat Kalinya Raih Gold Medal iGEM 2021 di Perancis

Universitas Indonesia catat prestasi di ajang International Genetically Engineered Machine Competition (iGEM) 2021 di Perancis. Raih gold medal ke 4.

Tayang:
Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Universitas Indonesia Keempat Kalinya Raih Gold Medal iGEM 2021 di Perancis. 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Universitas Indonesia keempat kalinya raih gold medal iGEM 2021 di Perancis.

Universitas Indonesia (UI) mencatat prestasi di ajang International Genetically Engineered Machine Competition (iGEM) 2021 di Paris, Perancis (4-14 November 2021).

Baca juga: Mahasiswa FTUI Borong Juara di Net Zero Healthy Building GBC IDEAS 2021, Wakil Indonesia di Hongkong

Empat belas mahasiswa UI lintas fakultas yang tergabung dalam tim iGEM UI berhasil mempersembahkan Gold Medal Prizes bagi UI.

Ini merupakan Gold Medal keempat yang UI dapatkan dalam penyelenggaraan iGEM setelah keikusertaannya di ajang tersebut dari tahun 2013.

Baca juga: Usung Empat Program Kerja, BEM UI Fokus Edukasi Hingga Promosi Produk UKM

Tim tersebut terdiri dari sembilan orang mahasiswa Fakultas Kedokteran atau FK UI, yaitu Kevin Tjoa, Fransiskus Mikael C., Angelina Clarissa, William Nathaniel, Benedictus Ansel S., M. Afif Naufal, Firda Izzain B., Violine Martalia, Teshalonica Mellyfera.

Selain itu, tim juga terdiri dari mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/ FMIPA UI, yaitu Samuel Febrian Wijaya, Gert Antonio Tobing, dan Hans Mahadhika, serta Madelstein Melhan (Fakultas Teknik atau FT UI), dan David Su (Fakultas Kedokteran Gigi/FKG UI)

Berjudul Helicostrike

Tahun ini, Tim UI mengangkat proyek berjudul Helicostrike. Helicostrike merupakan proyek yang berfokus untuk merancang E.coli yang dapat menghancurkan biofilm H.pylori dan membunuhnya.

“Kami membuat desain cara kerja dimana bakteri E.coli kami modifikasi dengan metode biologi sintetik sehingga dapat membunuh bakteri H.pylori pada sistem pencernan manusia yang merupakan salah satu faktor penyebab ulkus peptikum, gastritis kronik dan kanker lambung pada saluran pencernaan," kata Kevin Tjoa, Ketua Tim.

"Desain cara kerja ini penting sebagai salah satu upaya menekan risiko resistensi antibiotik terkait pengobatan infeksi H.pylori yang dilakukan secara konvensional,” tambahnya.

Baca juga: Ini Trik dari Wakil Rektor UI Bidang Akademik dan Kemahasiswaan untuk Siswa yang Ingin Kuliah di UI

Menurut Kevin, proyek ini menjadi sangat penting bagi komunitas di Indonesia, mengingat prevalensi infeksi H.pylori di Indonesia mencapai 22.1 persen.

Diketahui pula bahwa beberapa suku di Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi akan infeksi H.pylori, yaitu suku Batak, Bugis dan Papua.

Informasi ini mereka dapatkan dari wawancara dan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh dekan FK UI, Prof. Dr.dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP.

Baca juga: Selama PPKM Level 2, UI Persilakan Warga Berolahraga, Asal Tidak Ngumpul di Satu Titik

Rancang desain ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah lebih patient friendly,

“Ke depannya kami mengupayakan jika sudah menjadi produk, maka Helicostrike akan dibuat dalam bentuk yoghurt, sehingga lebih mudah atau enak dikonsumsi dibandingkan obat pada umumnya, namun tetap memiliki efektivitas yang tinggi,” ujar Kevin.
 
Selain itu, dengan adanya rancang desain ini diharapkan juga pengobatan pasien dapat berjalan dengan efektif-efisien tanpa menggunakan banyak obat, karena pengobatan konvensional saat ini menggunakan antibiotik kombinasi yang terdiri atas clarithromycin triple, sequential dan bismuth quadruple yang pengobatannya mencapai 10-14 hari.

Baca juga: Dekan FF UI 2022-2026 Arry Yanuar, Punya 8 Langkah Strategis Menuju Entrepreneurial University

Banyaknya jenis obat yang harus dikonsumsi dan panjangnya waktu konsumsi antibiotik ini dapat membuat pasien menjadi bosan dan tidak menghabiskan antibiotik sampai tuntas, sehingga meningkatkan risiko resistensi antibiotik.

Tantangan Pandemi

Seluruh proses penelitian tim tersebut dilakukan di bawah bimbingan Dr. dr. Budiman Bela, SpMK(K) (Departemen Mikrobiologi FK UI), dibantu oleh segenap tim peneliti dari Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi (PRVKP) FKUI.

“Prestasi ini merupakan hal yang luar biasa mengingat tentu tidak mudah melakukan persiapan untuk kompetisi ini dalam suasana pandemi yang banyak membatasi pergerakan manusia ini,” kata Dr. Budiman.

Situasi pandemi memang membawa kesulitan tersendiri bagi tim.

"Kesulitan yang paling dirasakan adalah kami tidak dapat bertemu langsung dan mengerjakan proyek kami di laboratorium basah/wet lab, sehingga kami berusaha lebih keras untuk dapat membuktikan bahwa desain yang kami kerjakan memiliki efektivitas yang tinggi dengan modelling dari dry lab saja,” ujar Kevin.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, tim melakukan literatur review secara mendalam, melakukan berbagai diskusi dan wawancara bersama para senior dan ahli, serta belajar dan bekerja lebih keras sampai menemukan formulasi yang tepat.

Baca juga: Wakil Rektor Universitas Indonesia: di Masa Industri 4.0 SDM Lulusan Sains Akan Banyak Dicari

iGEM merupakan sebuah kompetisi sintetik biologi tahunan yang diadakan oleh iGEM Foundation, sebuah organisasi non-profit internasional yang berpusat di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sejarah iGEM berawal dari student project yang dilakukan di kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang kemudian dikembangkan hingga akhirnya menjadi kompetisi sintetik biologi terbesar di dunia.

Tahun ini, kompetisi iGEM melibatkan lebih dari 352 tim yang berasal dari seluruh dunia.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved