Sawangan Depok
Asal Usul Tugu Batu Sawangan Depok, Begini Cerita Sebenarnya
Mau tahu cerita Tugu Batu Sawangan Depok atau asal usulnya. Simbol warga Depok melawan penjajahan Belanda.
Penulis: Hironimus Rama | Editor: dodi hasanuddin
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, SAWANGAN - Asal usul Tugu Batu Sawangan Depok, begini cerita sebenarnya.
Mungkin bagi warga pendatang yang menuju Kota Depok dan melintasi jalan Raya Muchtar, Sawangan, akan bertanya-tanya tentang sebuah tugu yang di atasnya ada batu.
Sebagian warga pendatang lainnya mungkin tidak akan tertarik. Tetapi, bagi warga Depok tugu tersebut sangat berarti.
Baca juga: Asal Usul 12 Marga dan Kisah Cornelis Chastelein Hibahkan Tanahnya di Depok
Tugu tersebut terletak dipertigaan Jalan Raya Muchtar, Sawangan, Kota Depok, dari arah Parung Bingung menuju Bojongsari, anda akan menemukan sebuah monumen dari batu di persimpangan jalan menuju Jalan Raya Pasir Putih.
Monumen itu tegak berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari pintu gerbang Perumahan Sawangan Permai.
Itulah Tugu Batu Sawangan.
Baca juga: Asal Usul Jembatan Serong Cipayung Depok, Tokoh Warga Sampaikan Hal Ini
Meskipun bentuknya tidak terlalu menyolok, tugu batu ini ternyata menyimpan kenangan yang bersejarah bagi perjalanan bangsa ini.
Bagaimana tidak, Tugu Batu Sawangan ini merupakan simbol yang mengingatkan perjuangan rakyat Depok melawan penjajahan Belanda.
"Di sini tentara NICA (Belanda) pada bulan November 1945 pernah dihancurkan oleh TKR para pemuda pejuang berserta rakyat wilayah Sawangan dalam perang kemerdekaan," demikian tulisan di Tugu Batu Sawangan ini.
Tugu batu itu diresmikan oleh Bupati Bogor H Ayip Rughby pada tanggal 29 Desember 1979.
Kala itu, Depok masih menjadi menjadi bagian dari Kabupaten Bogor.
Tidak ada yang tahu bagaimana sesungguhnya kisah heroik perlawanan terhadap Belanda pada 1945 itu.
Baca juga: Asal Usul Cerita Gentong Air Belanda di Bedahan Sawangan Depok, Dilupakan Generasi Muda
Pasalnya para pelaku sejarah dari perang itu kebanyakan sudah tidak ada lagi.
Encat Satria bin Gotam Thamrin (66) tokoh masyarakat Bedahan, Kecamatan Sawangan, mengatakan dirinya tidak mengetahui persis kisah perang itu.
"Kalau kisah perangnya saya tidak tahu. Saya hanya dapat cerita dari ayah saya Gotam Thamrin bin Hasan yang tahu persis ceritanya," kata Encat pada Jumat (15/10/2021).
Gotam Thamrin yang meninggal pada usia 97 tahun pada 2019 lalu merupakan saksi sejarah sekaligus pelaku perlawanan terhadap Belanda dalam perang itu.
"Menurut cerita ayah, di situ dulu terjadi perang melawan Belanda oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ayah ikut dalam perang itu," tuturnya.
Baca juga: 30 Soal Konversi Satuan Panjang Centimeter - Meter Kelas 3 SD & Kunci Jawabannya
Tidak banyak yang diingat Encat dari cerita ayahnya soal perang itu. Tetapi yang masih dia ingat tentang tugu batu itu adalah adanya pohon sengon besar yang tumbuh di lokasi itu.
"Dulu ada pohon sengon di lokasi tugu batu itu. Pohon besar rindang seperti di Pasar Parung," ujar Encat.
Di bawah pohon itu, ibunya dulu membuka warung kopi.
Baca juga: Larissa Chou Beberkan Kriteria Laki-Laki untuk Jadi Suami Barunya
Ketika pohon itu dipangkas untuk pembangunan tugu batu, para pedagang pindah ke sisi sebelah kiri Jalan Raya Muchtar.
Menurut Encat, Tugu Batu Sawangan ada kaitannya dengan gentong yang ada di Bedahan, tepatnya di Perumahan Bukit Tamphayan River View saat ini.
"Gentong itu merupakan tempat penyimpanan air bagi pabrik pengolahan getah karet yang lokasinya ada di sekolah Al Araf saat ini," jelasnya.
Dia menambahkan kawasan Sawangan zaman dulu merupakan hutan karet sehingga ada pabriknya sejak zaman Belanda.
"Saya masih ingat dulu saat pabrik masih produksi dan juga saat pembongkaran pabrik karet itu," ungkapnya.
Situs lain yang juga terkait dengan pabrik karet itu adalah Situ Bedahan/ Situ Gugur.
Situ itu sengaja dibendung oleh Belanda untuk mengalirkan air ke arah pabrik karet.
"Jadi kawasan Tugu Batu Sawangan hingga gentong dan Situ Gugur itu sangat bersejarah di Sawangan," papar Encat.
Baca juga: Atlet Kota Depok Sumbang 18 Medali untuk Bantu Jawa Barat Jadi Juara Umum PON XX Papua
Dia berharap Pemerintah Kota Depok merawat situs-situs itu agar sejarahnya tidak dilupakan oleh generasi muda.
"Mudah-mudahan ada perawatan dari Pemkot Depok sehingga tetap terjaga kerapian dan kebersihannya, sehingga kenangan sejarahnya tidak terlupakan," jelas Encat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Tugu-Batu-Sawangan-di-Jalan-Raya-Muchtar-Sawangan-Kota-Depok.jpg)