Viral Media Sosial

Gus Miftah Tertawakan Pengamat yang Sebut Belajar Bahasa Arab Jadi Ciri Teroris, Disebutnya Aneh

Gus Miftah Tertawakan Pengamat yang Sebut Belajar Bahasa Arab Jadi Ciri Teroris. Berikut Selengkapnya

Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
Instagram @gusmiftah
Gus Miftah 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Polemik ciri-ciri teroris yang disampaikan seorang pengamat disoroti Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah.

Ulama sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta itu menyebutkan sosok pengamat tersebut adalah pengamat aneh.

Alasannya karena pernyataan sang pengamat yang menyebutkan ciri-ciri teroris di antaranya tidak hafal nama-nama partai politik (parpol) hingga belajar bahasa Arab.

Hal tersebut disampaikan Gus Miftah lewat akun instagramnya @gusmiftah; pada Senin (13/9/2021).

Dalam postingannya, dirinya mempertanyakan dasar pernyataan yang diungkapkan pengamat tersebut.

Terlebih mengenai ciri-ciri teroris yang tidak hafal partai politik hingga belajar bahasa Arab.

Baca juga: Cara Duduk Ustaz Abdul Somad Bikin Salah Fokus, Satu Kakinya Diangkat Ketika Duduk di Atas Kursi

Baca juga: Upah Minimum Kota Depok 2021 Naik, Berada di Urutan ke-4 Tertinggi di Jabar, Berapa Kenaikannya?

Sebab menurutnya, penghafalan nama-nama partai politik memang tidak diwajibkan.

Sedangkan bahasa Arab menjadi bagian dari ibadah umat muslim.

Selain itu, bahasa Arab pun ditegaskan Gus Miftah menjadi salah satu materi yang diajarkan kepada anak-anak di pondok pesantren.  

Baca juga: Hore, Mulai Besok Taman Impian Jaya Ancol Kembali Buka Dufan hingga Pulau Bidadari, Simak Syaratnya

Baca juga: Gagah-gagahan dan Akui Sengaja Kelabui Aparat Pakai Pelat Nomor Dinas TNI, FF Cuma Kena Tilang

"Ciri-ciri teroris menurut pengamat aneh, satu tidak hafal nama-nama partai politik. Bu, sejak kapan nama-nama parpol disuruh menghafalkan?," ungkap Gus Miftah.

"Yang kedua, banyak yang mempelajari bahasa Arab," ujar Gus Miftah sembari menahan tawa.

"Solat juga bahasa Arab bu, ngaji kitab di pondok (pesantren) juga bahasa Arab, ibu sehat?," ujarnya melanjutkan.

Baca juga: Terapkan Aplikasi Peduli Lindungi Serta Sertifikat Vaksin Bagi Penumpang, KRL Kini Beroperasi Penuh

Baca juga: Bupati Bogor Ade Yasin Gandeng IPB University Luncurkan Program Sekolah Pemerintahan Desa

Berdasarkan penelusuran, sosok yang disinggung Gus Miftah diduga adalah Pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati.

Terdapat empat poin ciri seorang teroris disebutkan Susaningtyas yang menuai polemik, antara lain: 

1. Teroris tidak hafal nama-nama partai politik

2. Teroris tidak memasang foto presiden dan wakil presiden

3. Teroris tidak mau menghafal nama-nama menteri pemerintahan

4. Teroris Berbahasa Arab

Membantah

Terkait hal tersebut, Susaningtyas mengklarifikasi pernyataannya tersebut.

Dalam siaran tertulis, Politisi Perindo itu menegaskan dirinya sangat menghormati Agama Islam, agama yang dipeluknya saat ini.

Dirinya yang mengaku sangat mencintai Islam pun tak akan menuduh sesama muslim ataupun menuduh agama lain sebagfai embrio terorisme.

Dalam kesempatan tersebut, Susaningtyas mengaku menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio terorisme atau radikalisme, termasuk cikal bakal terorisme yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di Indonesia.

Namun, lanjutnya, tidak semua lembaga pendidikan Islam bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme atau bahkan Taliban.

Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.

Susaningtyas pun menegaskan dirinya sangat menjunjung tinggi adat budaya Indonesia yang adiluhung dan rasa cinta Tanah Air.

Sehingga, apa yang disampaikannya tidak lain karena dirinya ingin mengajak seluruh elemen bangsa dalam bela negara.

Sedangkan terkait dengan bahasa arab, Susaningtyas mengaku sangat menghormati bahasa tersebut.

Menurutnya terdapat perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional,.

Dalam hal tersebut, dirinya mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengannya.

Berikut Klarifikasi Lengkap Susaningtyas 

Sehubungan dengan simpang siurnya pemberitaan terkait penjelasan saya pada webinar yang diselenggarakan Medcom maka saya merasa perlu meluruskannya.

Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya. Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama, bahkan juga dengan umat beragama lain. Islam rahmatan lil alamin. Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio terorisme.

Saya pun menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio terorisme (radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut.

Tentu saja tidak semua lembaga pendidikan berbasis muslim itu bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme atau bahkan Taliban. Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.

Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini.

Adapun permasalahan meruncing karena ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangan saya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalahpahaman kepada saya.

Perlu saya tambahkan, saya sangat menjunjung tinggi adat budaya Indonesia yang adiluhung dan rasa cinta Tanah Air, Indonesia. Sehingga, tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan karena saya ingin mengajak, serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam bela negara.

Terkait dengan Bahasa Arab. Tentu saya sangat respect dengan bahasa tersebut. Ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita, bahasa Indonesia. Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya.

Sebagai catatan, memang saya pun sangat mengkhawatirkan terjadi glorifikasi menangnya Taliban di Afganistan oleh sel-sel tidur terorisme di sini. Terkait hal ini tentu juga sudah sering dibahas oleh para ahli terorisme yang kita miliki, jadi bukan hanya saya saja.

Demikian keterangan saya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan sehat walafiat. Amin.

Terima kasih
Salam hormat
Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, MSi

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved