Kamis, 28 Mei 2026

Berita Depok

Dosen Universitas Pancasila Bongkar Grand Design Gender Pada AI

Perempuan sering kali harus "menerjemahkan" keinginan perempuan berkali-kali agar sistem AI dapat memahami konteks produktivitas mereka.

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Desy Selviany
TribunDepok/(TribunnewsDepok.com/M Rifqi Ibnumasy)
AI BAGI PEREMPUAN - Peneliti Gender Fitria Angeliqa meneliti AI masih didominasi oleh pola pikir patriarkis dan kebutuhan estetika hingga kebutuhan perempuan terpinggirkan. 

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Peneliti Gender Fitria Angeliqa mengungkapkan, arsitektur dan sistem AI saat ini mayoritas dibangun oleh perspektif laki-laki yang maskulin. Akibatnya, suara, kebutuhan, dan cara berkomunikasi perempuan tidak terakomodir.

Perempuan sering kali harus "menerjemahkan" keinginan perempuan berkali-kali agar sistem AI dapat memahami konteks produktivitas mereka.

Karena data input (prompting) yang masuk ke AI masih didominasi oleh pola pikir patriarkis yang mengedepankan kebutuhan estetika semata.

Menurut Fitria, AI bekerja secara generatif merekam pola akan terus memunculkan kembali output yang serupa dan normatif.

“Kerja sama riset antara Universitas Pancasila dan Female Academy menunjukkan bahwa mayoritas perempuan masih menggunakan AI untuk hal-hal yang bersifat konsumtif dan menimbulkan perilaku keranjingan yang tidak perlu, bukan untuk mendukung produktivitas atau pemberdayaan mereka,” kata Dosen Fikom Universitas Pancasila, Sabtu (23/5/2026).

Penggunaan AI oleh perempuan didominasi oleh isu estetika, seperti edit foto/video, pencarian informasi kesehatan keluarga, dan penyelesaian tugas administratif yang normatif. 

AI belum banyak digunakan untuk membaca literatur berat, riset mendalam, atau analisis pasar secara mandiri.

Baca juga: Saat Prabowo Guyon Reshuffle Zulhas di Hadapan Warga Kebumen

Grand Design Industri AI 

Fitria menjelaskan, dalam isu kesehatan, perempuan menjadi pengguna utama, misal mencari informasi gejala penyakit lewat platform kesehatan. 

Namun, hal ini justru mempertegas beban ganda tradisional, di mana perempuan tetap dibebankan sebagai penanggung jawab utama perawatan anggota keluarga.

“Mengingat beban kerja perempuan yang kompleks, perempuan seharusnya menjadi target utama AI untuk meringkas dan mempermudah pekerjaan mereka dalam satu sistem yang ramah pengguna,” ujarnya.

AI harus digunakan untuk membangun kesadaran gender, kesehatan diri yang lebih baik, serta meringankan banyak beban sosial perempuan.

Bagi Fitria, perempuan perlu diajarkan menggunakan AI untuk mempelajari hal-hal baru, seperti membaca literatur, memahami isu gender agar mampu mengenali ketidakberesan sosial dan menolak normalisasi kekerasan, seperti KDRT atau kekerasan seksual.

Selain itu, perempuan harus memanfaatkan AI agar berdaya secara ekonomi tanpa ketergantungan penuh pada pihak lain. 

“Misal mampu analisis pasar dan melakukan promosi sendiri tanpa melibatkan pihak ketiga,” ungkapnya.

Fitria mendesak industri teknologi untuk mengubah ritme dan desain AI agar tidak melulu teknis, melainkan lebih memberdayakan diri bagi perempuan dan anak-anak. (m38) 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved