Kamis, 7 Mei 2026

Berita Nasional

Berapa Lama Perang Iran Vs AS-Israel Berlangsung? Guru Besar UI Paparkan Prediksinya

Prof Juwana menyebut, ada lima variabel yang menentukan cepat lamanya perang tersebut.

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Desy Selviany

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 


TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Profesor Hikmahanto Juwana memaparkan analisanya tentang perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Pakar Hukum Internasional Profesor Juwana menyebut, ada lima variabel yang menentukan cepat lamanya perang tersebut.

Memasuki pekan kedua, Presiden Donald Trump memprediksi perang akan selesai dalam waktu empat hingga lima minggu.

Namun, Iran mengaku akan melayani berapa lamapun serangan yang dilancarkan oleh Israel dan AS untuk mempertahankan kedaulatannya.

5 Variabel Penentu 

Menurut Prof Juwana tidak semudah itu memprediksi berapa lama perang akan berlangsung.

Sebab ada lima variabel sejatinya yang menentukan cepat lamanya perang.

Pertama, stamina dari masing-masing yang berperang, apakah masih mampu untuk terus berperang atau tidak. 

“Stamina yang dimaksud disini adalah seberapa banyak alat militer yang dimiliki, mulai dari rudal, drone militer, pesawat tempur hingga prajurit serta anggaran,” jelasnya.

Prof Hikmahanto JUWANA PERANG IRAN
PERANG IRAN VS AS-ISRAEL - Guru Besar Hukum Internasional UI, Prof Hikmahanto Juwana memaparkan lima variabel yang menentukan cepat lamanya perang AS-Israel vs Iran.

Kedua, dukungan dari dalam negeri baik para politisi maupun rakyat AS-Israel maupun Iran yang terlibat perang.

“Ini penting mengingat siapapun yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan untuk terus atau menghentikan perang bergantung pada didukung tidaknya oleh politisi dan rakyat,” jelasnya.

Baca juga: Hancurkan Sistem Rudal THAAD yang Dibanggakan Washington, Iran Klaim Tewaskan 500 Tentara AS

Ketiga, apakah perang Israel dan AS melawan Iran akan diikuti oleh negara lain? 

Negara-negara teluk, Inggris, Prancis dan Jerman di satu sisi dan Rusia, China bahkan Korea Utara turut menentukan lama tidaknya perang.

Keempat, bagaimana dunia bereaksi termasuk rakyat di suatu negara. Bila perang terus berlangsung bukannya tidak mungkin ada gerakan dari dunia untuk mengisolasi dan melakukan embargo terhadap pihak yang berperang.

Bahkan rakyat suatu negara bisa melakukan demo dan tindakan yang tidak bersahabat dari negara-negara yang berperang namun ditujukan pada kepentingan dan warga dari pihak yang berperang. 

Terlebih lagi di era digital, netizen dunia akan melakukan berbagai hal untuk membela salah satu pihak yang berperang.

Terakhir, apakah ada upaya dari negara yang bersedia untuk menjadi mediator. 

Bagi Prof Juwana, ini penting saat pihak yang berperang telah kehabisan stamina, kelelahan dan tidak mendapat dukungan dalam negeri. 

Peran mediator sejatinya sebagai penyelamat muka pihak yang berperang. 

Mereka disaat demikian membutuhkan exit strategy berupa pihak ketiga untuk dimediasi agar tidak dipersepsikan sebagai pihak yang kalah perang

Diketahui Iran melakukan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Serangan balasan ini diluncurkan ke Bahrain, Israel, Kuwait, Abu Dhabi, Yordania, hingga Arab Saudi. 

Iran tidak ragu meledakan sejumlah bangunan yang dianggap terkait dengan militer AS di negara-negara kaya minyak tersebut.

Mulai dari pangkalan militer, pengeboran minyak, hingga hotel yang terkait dengan AS dan Israel tidak luput dari serangan Iran.

Serangan ini bermula dari AS-Israel yang terlebih dahulu meledakan rudal di Teheran, Iran pada Sabtu (28/2/2026) saat kesepakatan nuklir gagal dicapai.

Iran pun terlihat tidak gentar dan terus melakukan serangan.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved