Depok Hari Ini
Fakta Unik Sejarah Depok, Pernah Punya Presiden Resmi Sendiri
Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Depok menjadi daerah khusus yang memiliki presiden resmi sendiri.
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: murtopo
Laporan wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Depok memiliki sejarah panjang dan unik, bahkan sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 silam.
Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Depok menjadi daerah khusus yang memiliki presiden resmi sendiri.
Bukti-bukti sejarah tersebut tersimpan rapi di Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoran Mas, Depok.
Di lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat langsung foto dan nama Presiden Kaoem Depok dari masa ke masa.
Baca juga: VIDEO : Sekilas Sejarah 12 Marga Belanda Depok Buruh Cornelis Chastelein
Fakta Sejarah
Pengurus YLCC Bidang Pendidikan, Suzana Legia Leander menjelaskan, Presiden Kaoem Depok pada masa itu sudah dipilih secara demokratis.
Sejarah ini berawal dari seorang pengusaha Belanda, Cornelis Chastelein membeli sebidang tanah di kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Pancoran Mas, Depok sekira tahun 1696.
Kemudian, Cornelis membawa 150 budak atau pekerja untuk mengurusi bisnisnya di wilayah tersebut.
Selang beberapa waktu, Cornelis lantas memerdekakan budak-budaknya tersebut dan membaptisnya untuk memeluk agama Kristen.
Baca juga: Terungkap Fakta, Calon Pemain Timnas Miliano Jonathans Ternyata Cicit Presiden Ke-1 Kaoem Depok 1913
Usai dimerdekakan dan memeluk agama Kristen, pekerja Cornelis dikelompokkan dalam 12 marga nama baptis.
“Boleh saya sebut, Jonathans, Soedira, Laurens, Bacas, Leander, Joseph, Tholense, Jacob, Loen, Isakh, Samuel, dan Zadokh,” kata Suzana, Rabu (27/8/2025).
Dalam perkembangannya, anggota 12 marga tersebut diberikan kebun-kebun oleh Cornelis hingga hingga mendirikan negara.
“Jadi kami punya presiden, karena pada saat itu, khususnya di Eropa dibolehkan negara di dalam negara,” ungkapnya.
Tercatat, Presiden Ke-1 Kaoem Depok (1913) bernama Gerit Jonathans dan berakhir di kepemimpinan Presiden ke-5, Johanes Mathijs Jonathans sebelum sepenuhnya jatuh ke pangkuan NKRI.
“Istana negaranya itu di Rumah Sakit Harapan, namanya Kementer Bestuur, jadi kami sudah mengenal demokrasi ya sejak saat itu,” pungkasnya. (m38)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Gedung-Yayasan-Lembaga-Cornelis-Chastelein-di-Jalan-Pemuda-Pancoran-Mas.jpg)