Kamis, 30 April 2026

Siasati Tantangan Era Web 3.0 Influencer LinkedIn Gelar Temu Tatap Muka di Bogor

Dampak lain dari Web 3.0 adalah berkurangnya interaksi manusia secara emosional di dunia nyata atau yang disebut dengan dehumanisasi

Tayang:
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Umar Widodo
Istimewa
Ratusan pegiat media sosial LinkedIn mengadakan Temu Tatap Muka Real Succes with LinkedIn di Saung Dolken Bogor, Rabu (2/2/2022) 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BOGOR - Perkembangan teknologi membawa manusia berada di era Web 3.0 saat ini. Selain membawa kemajuan, ternyata era Web 3.0 ini membawa dampak negatif yaitu rendahnya ketersediaan lapangan pekerjaan karena sumber daya manusia (SDM) telah digantikan oleh teknologi digital.

Hal itu diungkapkan oleh Deputy CEO Mili Erik Yoachim  dalam acara Temu Tatap Muka Real Succes with Linked-In di Saung Dolken Bogor, Rabu (2/2/2022).

"Sekarang, kita berada dalam era Web 3.0. Konsep yang diusung pada Web 3.0 adalah intelektualitas buatan (artificial intelligence)," kata Erik.

Menurut dia, di era Web 3.0, bukan hanya manusia dengan manusia yang dapat berinteraksi satu sama lain, tetapi satu aplikasi dengan yang lain juga dapat berinteraksi.

"Web atau aplikasi juga lebih memanjakan penggunanya," tuturnya.

Dampak lain dari Web 3.0 adalah berkurangnya interaksi manusia secara emosional di dunia nyata atau yang disebut dengan dehumanisasi.

"Interaksi sosial antar manusia menjadi sangat terbatas karena diganti interaksi dunia maya," ungkap Erik.

Erik menambahkan Mili sebagai perusahaan platform digital berbasis apps mendukung penuh digelarnya acara tatap muka pegiat Linked-In ini.

"Mili menyambut dengan Antusias acara ini dan semoga dengan acara seperti ini Mili dapat berkontribusi untuk mengurangi pengangguran di Indonesia," ungkapnya.

Muharmen Noviandy, selaku penyelenggara acara Temu Tatap Muka Real Succes with LinkedIn, menjelaskan kegiatan ini diprakarsai oleh Syarea World.

"Syarea World merupakan perusahaan yang sudah membantu banyak pengusaha-pengusaha untuk growth bahkan dimasa pandemi ini," jelasnya.

Dia menambakan berkurangnya lapangan pekerjaan membuat pencari kerja banting stir membuka usaha.

"Banyak Startup-starup baru yang mencoba untuk membuat usaha dengan menitik beratkan pada  pendanaan/investasi yang disebut Unicorn," imbuhnya.

Namun tidak mudah membuat usaha tersebut. Bahkan beberapa perusahaan startup sudah bangkrut atau tutup.

Sumber: Tribun depok
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved