Kebakaran Rumah Sakit Salak
Denkesyah RS Salak Kota Bogor Terbakar, Danrem 061 Suryakencana Berharap Ada Revitalisasi
Danrem 061 Suryakencana berharap ada revitalisasi terhadap bangunan bersejarah di RS Salak yang terbakar.
Penulis: Cahya Nugraha | Editor: dodi hasanuddin
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BOGOR- Denkesyah RS Salak Kota Bogor Terbakar, Danrem 061 Suryakencana berharap ada revitalisasi.
Ruang Arsip dan Farmasi Detasemen Kesehatan Wilayah (Denkesyah) , Rumah Sakit Tingkat lll Salak, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bogor, Jawa Barat habis dilahap si Jago Merah pada Jumat (7/4/2023).
Sebagai informasi bangunan Denkesyah merupakan bangunan bersejarah sejak zaman pemerintah Belanda yang masih berdiri kokoh dan tidak berubah bentuknya hingga saat sebelum terjadinya kebakaran.
Baca juga: Pemkot Depok Gelar Pasar Rakyat di Alun-alun, Antisipasi Kenaikan Harga Saat Ramadan dan Lebaran
Menanggapi hal tersebut, Danrem 061 Suryakencana Brigjen TNI Rudy Saladin mengatakan dirinya berharap adanya program revitalisasi.
"Memang maunya kita ada program revitalisasi. Namun perlu ada kajian bangunan forensik terlebih dahulu. Kita serahkan nanti kepada tim untuk menentukan layak atau tidaknya direvitalisasi, " ungkap Rudy ditemui di RS Salak, Sabtu (8/4/2023).
Kemudian terkait dengan pembangunan Denkesyah, nanti mungkin bisa tanya ke Pak Wali, terutama terkait dengan gedung yang sebelumnya adalah cagar budaya di Kota Bogor ini," sambungnya.
Merespon hak tersebut, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan terkait dengan upaya penyelamatan cagar budaya, dirinya sepakat untuk melakukan kajian forensik bangunan.
"Nanti hasilnya akan kita pelajari bersama-sama. Di situ akan terlihat mana bangunan yang masih bisa diselamatkan, mana yang tidak bisa diselamatkan lagi. Kemudian nanti setelah itu, konsep revitalisasinya seperti apa," ucap Bima.
Bima menambahkan bawah bangunan Denkesyah sebagai aset cagar budaya yang harus diselamatkan semaksimal mungkin.
"Ini karena aset ya, betul-betul cagar budaya 1894 gitu. Jadi semaksimalnya mungkin kita selamatkan. Nanti desainnya seperti apa, kita akan duduk bersama-sama membicarakan juga fungsinya seperti apa. Sekali lagi betul-betul ikhtiar menyelamatkan semaksimal mungkin," kata Bima.
Berdiri Tahun 1925
Mengutip dari laman resmi RS Salak Bogor http://www.rssalakbogor.co.id/. Rumah Sakit Salak Bogor mulai berdiri tahun 1925, saat itu dikelola oleh pemerintah Belanda.
Pada bulan Maret 1950, rumah sakit ini diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Penyerahan ini dilakukan oleh Direktur MGD KNIL, Mayor Jendral Dr. Simon kepada Wakil Direktur Kesehatan Angkatan Darat dan sebagai Karumkit, Mayor Dr. Sarjiman.
Tahun 1963, Rumah Sakit TNIAD Salak Bogor yang berkedudukan dibawah Komando Angkatan Darat dengan nama Djawatan Kesehatan Tentara (DKT)
Selanjutnya tahun 1984, Rumah sakit ini menggunakan kembali namanya yang lama, yaitu Rumah Sakit TNIAD Salak Bogor.
Tahun 1960 hingga saat ini atas petunjuk dari Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Rumah Sakit TNIAD, Salak Bogor dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada Prajurit, PNS TNI dan keluarganya serta masyarakat umum.
Selama perkembangannya sejak tahun 1990 Rumah Sakit Salak telah mengalami penambahan bangunan dan renovasi, sehingga saat ini kapasitas rawat inap sudah menjadi 155 tempat tidur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Danrem-061-Surken-Brigjend-Rudy-Saladin.jpg)