IPTEK
Ahmad Syihan Ciptakan Inovasi Salju Es untuk Bantu Nelayan Agar Ikan Hasil Tangkapannya Tetap Segar
Ahmad Syihan menjelaskan bahwa salju ini memiliki suhu hingga -4 derajat celcius atau berada di bawah titik nol beku air jadi ikan akan tetap fresh
Penulis: Gilar Prayogo | Editor: murtopo
Laporan TribunnewsDepok.com Gilar Prayogo
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Nelayan adalah salah satu profesi yang paling banyak dipilih oleh masyarakat Indonesia. Alasannya adalah Indonesia adalah negara yang terdiri dari kepulauan.
Indonesia bukan hanya sebagai negara kepulauan, melainkan adalah negara bahari. Negara yang dikaruniai dengan berbagai banyak macam ikan dan jumlahnya yang begitu banyak.
Namun ada permasalahan yang hinggap ke nelayan Indonesia. Dimana dari hasil tangkapan ikan yang melimpah, kebanyakan harus dibuang kembali.
Alasannya adalah tempat pembekuan ikan sudah penuh maupun es balok yang sudah mencair selama berada di perjalanan menuju darat.
Ternyata keluhan tersebut membuat Ahmad Syihan menciptakan suatu produk yang membantu para nelayan di Indonesia.
Yaitu alat pembuat salju es untuk ikan atau salary ice. Alat ini dibuat untuk membantu para nelayan, agar ikan yang didapatkan ketika sampai ke darat akan tetap dalam keadaan segar, bukan dalam keadaan beku.
"Jadi alat ini memang diciptakan untuk mengatasi permasalahan dari para nelayan. Karena kebanyakan mengeluh, saat ikan dapat banyak, namun tempat pendinginnya penuh, maka harus dibuang kembali," ungkap Ahmad Syihan saat ditemui TribunnewsDepok.com di Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022).
Baca juga: Ahmad Syihan ke Tugu Cimanggis Depok, Sebut Tak Pandang Bulu Bantu Warga
Dirinya mengatakan bahwa dengan banyak ikan yang dibuang membuat para nelayan harus mendapatkan penghasilan yang sedikit dan menghargai ikan lebih murah dari biasanya.
"Selain hal itu, nelayan juga harus dibayar dengan cukup murah oleh para pengepul di darat, karena kualitas ikan yang sudah menurun atau sudah tidak segar lagi," ujar Ahmad.
Dari situlah ide untuk membuat alat Salary Ice ini muncul dan membantu para nelayan untuk mendapatkan hasil yang cukup besar serta ikan akan jauh lebih segar.
Salary ice ini berbeda pemakaiannya dengan penggunaan es batu balok yang ditambah dengan garam. Perbedaan yang mencolok adalah, alat ini akan menggunakan air laut yang asin dan diubah menjadi sebuah salju.
Baca juga: Ahmad Syihan Sampaikan Nur Azizah Tamhid Siap Bantu Warga Depok Entaskan Rumah Tak Layak Huni
Salju ini nantinya akan dimasukkan ke dalam wadah dan siap dimasukkan ikan hasil tangkapan para nelayan. Namun kelebihannya adalah ikan akan tetap segar hingga sampai ke pengepul ikan.
"Jadi salju ini dibuat dengan menggunakan air. Tetapi untuk nelayan bisa menggunakan langsung air laut yang memiliki kadar garam yang tinggi," jelasnya.
"Jadi nelayan tidak perlu lagi menggunakan garam tambahan untuk membuat ikan ini tetap segar. Karena sudah ada garam di air laut," sambung Ahmad.
Ahmad Syihan menjelaskan bahwa salju ini memiliki suhu hingga -4 derajat celcius atau berada di bawah titik nol beku air.
"Jadi ikan akan tetap fresh hingga ke daratan, bukan menjadi ikan yang beku," imbuh Ahmad.
Baca juga: Kabar Kecamatan Cimanggis Depok, Ahmad Syihan Gelar Program Bagi Sembako ke Warga Tugu RW 01
Menurut Wakil Bupati Kabupaten Subang Agus Masykur Rosyadi ini adalah sebuah inovasi yang sangat luar biasa terutama untuk bidang Perikanan.
"Luar biasa melihat inovasi untuk para nelayan. Apalagi ini membantu sekali para nelayan untuk mendapatkan harga yang sesuai dan masyarakat mendapatkan ikan yang fresh," kata Agus Masykur.
Dirinya berharap lewat inovasi yang cemerlang ini dapat membantu para nelayan terutama di Kabupaten Subang agar semakin banyak menangkap ikan dengan jumlah yang semakin banyak.
"Alat ini nantinya diharapkan akan membantu para nelayan di Kabupaten Subang agar mereka mendapatkan hak dan semakin meningkatnya kualitas perikanan.
"Apalagi ini menjamin bahwa ikan akan terus dalam keadaan fresh hingga sampai ke tempat pelelangan ikan. Pokoknya alat ini sangat inovatif," sambungnya.
Baca juga: Jubir Aleg DPR RI Ahmad Syihan Membagikan Sembako ke Warga Tugu Depok, Penerima: Sangat Membantu
Sekedar informasi, PT Hikari Solusindo Sukses berhasil menguasai dan memproduksi inovasi slurry ice machine Indonesia dan siap mendukung pemerintah dan pemerintah daerah bersama nelayan dan pelaku usaha melakukan revolusi industri perikanan di seluruh Indonesia dengan memproduksi bubur es pada jumlah yang cukup dan harga terjangkau meski di wilayah terpencil yang tidak ada tenaga listrik.
Sekarang ditawarkan dalam 8 varian dengan 4 kapasitas produksi bubur es/24 jam sebesar 300; 600; 1.500; dan 3.000 kg yang dapat dipakai menangkap atau memanen ikan hingga 300; 600; 1.500; dan 3.000 kg ikan/hari.
MPBE Merah Putih lebih unggul dibanding buatan Jepang dan Cina karena, pertama, waktu pembentukan kristal bubur es jauh lebih cepat (2 menit versus 20-30 menit); kedua, fraksi kristal bubur es lebih banyak (>90 persen versus 30-40 persen); dan ketiga, harga per unit MPBE Merah Putih lebih murah.
Teknologi slury ice/bubur es sebagai pendingin dan pengawet produk perikanan mulai dikaji secara intensif dan sistematis pada awal 1980-an di Kanada, Eropa, dan Asia.
Kesimpulannya, teknologi slurry ice/bubur es bukan hanya teknologi pendingin yang tiada tandingan, tetapi juga menjadi media pengawet yang sempurna.
Teknologi slurry ice telah dimasukkan dalam panduan dan peraturan resmi pengawetan ikan.
Alasan utamanya, teknologi ini memiliki kapasitas penyimpan kalor yang tinggi, proses pendinginan yang cepat dan merata ke seluruh permukaan ikan hingga menghasilkan ikan berkualitas prima dan bertahan lebih lama.Selain itu, permukaan partikel bubur es berbentuk bulat/halus membuat permukaan/kulit ikan tidak mudah luka/rusak sehingga nilai ekonomi ikan makin tinggi.
Hingga tahun 2010, teknologi ini telah dipakai oleh 700 industri perikanan di dunia, sebagian besar di Islandia, Jepang, dan Norwegia.
Indonesia sebagai negara tropis yang menghadapi risiko kerusakan ikan sangat tinggi, tentu sangat berkepentingan untuk menguasai dan menerapkan teknologi slurry ice dalam industri perikanan.
Hingga saat ini, di Indonesia belum ada nelayan atau pelaku usaha perikanan menggunakan teknologi slurry ice.
Meskipun unggul, tapi harga mesin dianggap mahal, nelayan dan pelaku usaha belum familiar, serta mesin slurry ice yang tersedia secara komersial tidak compatible dengan laut tropis.
Indonesia harus mampu menguasai teknologi slurry ice, harus mampu melahirkan inovasi slurry ice machine/MPBE yang lebih berkualitas dan kompetitif harganya untuk menyelamatkan potensi kehilangan ikan 4,02 juta ton atau setara Rp 66,73 triliun ini. (m34).