Livoli

Hanny Surkatty: Liga Voli Indonesia Akan Gunakan Sistem Tiga Seri Setelah 20 Tahun Vakum

Livoli Divisi Utama yang biasanya berlangsung hanya dalam satu seri, dan barulah pada tahun ini berubah kembali menjadi tiga seri.

Penulis: Alfarizy Ajie Fadhilah | Editor: Umar Widodo
Tribunnews/Alfarizy AF
Hanny S Surkatty, Ketua Bidang III PP PBVSI usai konferensi pers Livoli 2022 di SCTV Tower, Jakarta, Rabu (21/9/2022) (Tribunnews.com/Alfarizy AF)  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Alfarizy AF

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Liga Voli Indonesia (Livoli) akan kembali menggunakan sistem tiga seri setelah selama kurang lebih 20 tahun vakum atau tak digunakan.

Livoli Divisi Utama yang biasanya berlangsung hanya dalam satu seri, dan barulah pada tahun ini berubah kembali menjadi tiga seri.

Hal itu dipastikan langsung oleh Ketua Bidang III (kompetisi dan pertandingan) Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI), Hanny S Surkatty.

"Kali ini tiga seri. Dulu pernah, tetapi sudah 20 tahun lalu, setelah itu hanya satu seri. Ini kami coba tiga seri," ujar Ketua III Bidang Kompetisi dan Pertandingan PP. PBVSI Hanny S. Surkatty.

Babak reguler Livoli Divisi Utama akan berjalan pada 11-16 Oktober 2022 di GOR Tawangalun, Banyuwangi, dan GOR Sritex Arena, Solo, 18-23 Oktober 2022.

Setelah itu, akan berlangsung di GOR Kimageti, Kabupaten Magetan akan menjadi tempat berlangsungnya babak final four (4-10 November 2022) dan babak final (12-13 November 2022).

"Mudah-mudahan ke depan bisa empat sampai lima seri. Bisa lebih banyak lagi karena semua pertandingan sangat menarik," tambah Hanny.

Livoli 2022 juga dipastikan akan terdiri dari kompetisi Divisi satu akan dilangsungkan di GOR Debes, Tabanan, Bali, 25 September hingga 2 Oktober mendatang.

Nantinya, para tim itu akan mendapatkan dana subsidi sebesar Rp 10 Juta untuk tim Divisi Satu dan Rp 15 Juta bagi tim Divisi Utama.

Bagi tim divisi utama yang berhasil masuk ke babak final four (empat terbesar) akan mendapatkan subsidi sebesar Rp 25 juta.

"Untuk hadiah itu sebenarnya uang pembinaan. Total senilai Rp500 juta dan ada subsidi untuk di divisi satu itu sebesar Rp10 juta dan untuk reguler divisi utama itu Rp15 juta. Dan untuk final four dan final sebesar Rp25 juta/klub," kata Hanny.

"Jadi cukup besar juga perbedaannya dibandingkan dengan dahulu. Dulu itu tidak ada subsidi dan hadiahnya hanya sebesar Rp200 juta," sambungnya.

(Alfarizy/m39)

 

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved