Seminat Tribunnews Depok

Antisipasi Bahaya Penggunaan Air Tanah Berlebihan, BKAT Kendalikan Pengambilan Air Tanah

Didirikan sejak 2014 Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) di Jakarta memiliki tugas dan peran utama mengelola air tanah di CAT Jakarta. 

Penulis: Cahya Nugraha | Editor: murtopo
TribunnewsDepok.com/Cahaya Nugraha
Kepala Balai Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM, Taat Setiawan memaparkan materinya terkait Pengendalian Pengambilan Air Tanah di Cekungan Jakarta di acara seminar terkait Bahaya Penggunaan Air Tanah Berlebihan yang berlokasi di Balairung Dwidjosewoyo, Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (8/9/2022) 

Laporan wartawan wartakotalive.com, Cahya Nugraha

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - TribunnewsDepok.com berkolaborasi dengan PT Tirta Asasta Kota Depok menggelar seminar terkait Bahaya Penggunaan Air Tanah Berlebihan yang berlokasi di Balairung Dwidjosewoyo, Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (8/9/2022) 

Dalam kesempatan itu Kepala Balai Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM, Taat Setiawan memaparkan materinya terkait Pengendalian Pengambilan Air Tanah di Cekungan Jakarta. 

Air tanah didefinisikan sebagai semua air yang berada di dalam tanah, air tersebut mengisi ruang pori-pori batuan dalam. 

"Abad 20 bisa dikatakan sebagai abadnya minyak. Namun, abad 21 sekarang ini merupakan abad air. Terlihat dari populasi, pemanasan global, kontaminasi, degradasi dan kondisi lingkungan air tanah saat," ungkap Taat. 

Lebih dari 1/3 populasi manusia di dunia menggantungkan pada air tanah. 

"Air tanah berubah dari sumberdaya habis pakai menjadi sumberdaya daur ulang," tuturnya Taat. 

Kemudian Taat menjabarkan data yang berdasarkan Global Water Security & Sanitation Partnership (GWSP) tahun 2021 yang menjelaskan bahwa sumber air minum di Indonesia bersumber pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebanyak 9 persen. 

"Kemudian ada dari mata air, 19 persen, sungai dan danau 9 persen, air kemasan 4 persen, sumber lain 13 persen dan 46 persen dari air tanah," jelas Taat. 

Sementara itu Taat juga menuturkan bahwa setidaknya kualitas air sungai di Indonesia saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. 

Hanya 5 persen air sungai yang memenuhi standar untuk dapat bisa digunakan oleh masyarakat. 

Sedikit tercemar 11 persen, cukup tercemar 31 dan sangat tercemar 53 persen berdasarkan GWSP 2021.

Sebagai Cekungan Air Tanah (CAT) yang terletak di Ibu Kota Negara, Jakarta khususnya mengalami tekanan air tanah yang paling besar di Indonesia. 

"Inilah yang menyebabkan rusaknya air tanah di Jakarta yang ditandai dengan penurunan muka air tanah, intrusi air laut dan penurunan tanah," papar Taat. 

Baca juga: Kolaborasi Tribun Depok, PT Tirta Asasta Depok Gelar Seminar Bahaya Penggunaan Air Tanah Berlebihan

Maka dari KESDM menyadari bahwa ini tentunya membutuhkan perhatian khusus agar degradasi tanah tidak terus berlangsung. 

Didirikan sejak 2014 Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) di Jakarta memiliki tugas dan peran utama mengelola air tanah di CAT Jakarta. 

Setelah 5 tahun berdiri dan fokus mengelola CAT Jakarta menunjukkan arah yang positif yaitu dengan naiknya kedudukan muka tanah di beberapa area Jakarta. 

Baca juga: Total Pelanggan Hanya 16 Persen, Pemkot Depok Minta Hotel dan Restoran Langganan Tirta Asasta Depok

"Setiap tahunnya setidaknya BKAT melakukan pemantauan terhadap 220 titik sumur secara kontinu dan 100 titik BM untuk mengetahui perubahan muka tanah," jelas Taat

Perlu diketahui bahwa seminar ini turut mengundang dan menghadirkan narasumber yang berkompeten dibidangnya antara lain, Ketua Kelompok Riset Interaksi Air Tanah Pusat Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN, Rachmat Fajar Lubis, Kepala Balai Konservasi Air Tanah, Taat Setiawan, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda KLHK, Syafrudin dan terakhir Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Depok, Mary Liziawati. 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved