Berita UI

Farmasi Universitas Indonesia dan FKUI Periksa Warga Banyuwangi, 74,1 Persen Punya Hipertensi

FKUI dan Farmasi Universitas Indonesia periksa warga Banyuwangi, 74,1 persen punya Hipertensi dan tinggi kadar kolesterol.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Farmasi Universitas Indonesia dan FKUI Periksa Warga Banyuwangi, 74,1 Persen Punya Hipertensi 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Farmasi Universitas Indonesia dan FKUI periksa warga Banyuwangi, 74,1 persen punya Hipertensi.

“Penyakit degeneratif menjadi momok bagi sebagian besar populasi Indonesia yang memasuki usia 30 tahun ke atas. Penyakit ini dikenal sebagai hipertensi atau tingginya tekanan darah, hiperkolesterol atau tingginya kadar kolesterol total, diabetes mellitus, dan tingginya asam urat. Semuanya masuk dalam sindrom metabolic,” kata Ketua Program Pengabdian Masyarakat, Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia (UI), Dr. apt. Anton Bahtiar, M.Biomed.  
  
Penyakit degeneratif tidak menular, namun berlangsung kronis, karena kemunduran fungsi organ tubuh akibat proses penuaan.

Baca juga: Universitas Indonesia UI Teliti Ekstrak Biji Petai Cina Dapat Cegah Peradangan di Kandung Kemih

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah menetapkan kebijakan dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan melalui Sistem Kesehatan Nasional.

Pemerintah berusaha mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum.  
  
Untuk mendukung pemerintah dalam menangani penyakit degeneratif, maka Tim Peneliti dan Pengabdi dari Fakultas Farmasi (FF) dan Fakultas Kedokteran (FK) UI  mengadakan pengabdian masyarakat di Kelurahan Penganjuran, Kebupaten Banyuwangi, Rabu, bulan lalu.

Baca juga: Universitas Indonesia UI Ciptakan Pantir Pengukur Intensitas Curah Hujan dan Tinggi Muka Air Sungai

Mereka melakukan penyuluhan kepada 50 warga Kelurahan Penganjuran agar memiliki kesadaran terhadap kesehatan di usia lanjut.  
  
Selain penyuluhan, pada kesempatan itu dilaksanakan pula pemeriksaan kesehatan warga terkait penyakit degeneratif yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah sewaktu, kadar kolesterol total, serta kadar asam urat.

Dalam pemeriksaan tersebut, diperoleh hasil: 71,4 persen penduduk memiliki tekanan darah lebih dari 120/80 mgHg;  57 persen penduduk mempuanyai kadar kolesterol total lebih dari 200mg/dL; 65,3 persen penduduk memiliki kadar asam urat lebih dari 6-7 mg/dL; dan 32,7 persen penduduk memiliki kadar gula darah sewaktu 140 mg/dL. 
  
Kepala Kelurahan Penganjuran, Yuda Teguh Siswanto, S.STP., M.M., mengatakan, Program Pengabdian Masyarakat UI ini sejalan dengan Program Banyuwangi Rebound.

Program ini mencakup tiga pilar penting, yaitu tangguh pandemi, pulihkan ekonomi, dan merajut harmoni.

“Kesehatan menjadi hal penting untuk mendukung tercapainya Program Banyuwangi Rebound. Salah satu langkahnya adalah tanggap Covid-19 melalui vaksinasi dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara umum,” kata Yuda. 
  
Berdasarkan data yang diperoleh Tim Peneliti dan Pengabdi UI, mayoritas penduduk Kelurahan Penganjuran mengalami hipertensi, hiperkolesterol, serta hiperurisemia yang merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler.

Oleh karena itu, Tim Pengabdi memberi kesadaran pada warga untuk lebih memperhatikan kesehatan diri agar kualitas hidup meningkat dan terhindar dari risiko penyakit kardiovaskuler. 

Baca juga: Monolog Negeri Sarung di Universitas Indonesia UI, Rachmat Gobel: Santri Bisa Kontribusi di Industri

Warga diimbau untuk mengurangi makanan berlemak serta mengurangi konsumsi gula dalam kopi yang biasa dikonsumsi 6 kali sehari.

Selain itu, warga juga diberi pengetahuan tentang obat herbal yang terdapat di daerah sekitar Banyuwangi. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan adalah buah naga yang mengandung antioksidan tinggi. 
  
Primary Health Care (PHC) merupakan strategi yang ditetapkan pemerintah Indonesia untuk mencapai kesehatan semua masyarakat.

Salah satu unsur penting dalam PHC adalah penerapan teknologi tepat guna dan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat dalam menunjang pembangunan kesehatan berdasarkan PHC berbentuk upaya pengobatan tradisional (Badan Pusat Statistik, 2008).  

Baca juga: Universitas Indonesia UI Terus Komitmen untuk Meningkatkan Mutu dengan Akreditasi Internasional

Untuk mendukung strategi tersebut, Tim Pengabdi dan Peneliti UI mengajarkan kepada warga tentang cara pembuatan teh herbal dengan bahan dasar batang tanaman naga.

Pertama, batang pohon naga dipotong dan dikeringkan. Kemudian, batang tersebut dihaluskan hingga menjadi serbuk teh.  
  
Selain teh dari serbuk batang, daging buah naga juga berpotensi baik untuk kesehatan. Hal ini telah diteliti oleh salah satu anggota Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. Tri Wahyuni.

“Masyarakat diharapkan dapat mengolah sendiri sambil memanfaatkan kearifan lokal Banyuwangi sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan diri dan keluarga,” kata Dr. Tri. 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved