Penelitian UI

Universitas Indonesia UI Ciptakan Pantir Pengukur Intensitas Curah Hujan dan Tinggi Muka Air Sungai

Pantir pengukur intensitas curah hujan dan tinggi muka air Sungai. Teknologi itu dibuat FMIPA Universitas Indonesia UI.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Universitas Indonesia UI Ciptakan Pantir Pengukur Intensitas Curah Hujan dan Tinggi Muka Air Sungai 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Universitas Indonesia UI ciptakan Pantir pengukur intensitas curah hujan dan tinggi muka air Sungai

Curah hujan dalam jumlah tertentu dapat mengakibatkan banjir, karena itu dibutuhkan alat pemantau agar dapat memprediksi jumlah tersebut.

Sejalan dengan Rencana Strategis Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Indonesia (UI) Tahun 2020-2024 yang salah satunya adalah mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan teknologi demi menjawab tantangan persoalan di tengah masyarakat.

Baca juga: SIL UI Gelar The 3rd JESSD International Symposium, Bahas Tantangan Pembangunan Berkelanjutan

Tim dari Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) itu diketuai oleh Dr. Eng. Supriyanto, hadir secara langsung di area Sungai Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, untuk memasang teknologi pemantau curah hujan, pada Kamis (18/8/2022).

Teknologi karya anak bangsa ini diberi nama pantir.  
  
Dr. Eng. Supriyanto mengatakan pantir memiliki kemampuan untuk mengukur intensitas curah hujan, tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah, suhu dan kelembaban lingkungan di area pemasangan.

Dengan pemanfaatan pantir peningkatan potensi bencana banjir yang kerap mengancam masyarakat Indonesia saat musim penghujan dapat diketahui lebih awal, sehingga dampak kerugian materi maupun korban jiwa dapat dihindari atau  diminimalisir. 
  
“Pantir dapat diandalkan untuk memitigasi bencana banjir melalui pemantauan tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah dan intensitas curah hujan di wilayah tangkapan air (catchment area),” kata Supriyanto menerangkan kegunaan pantir.

Hasil pengukuran juga dapat diakses oleh masyarakat melalui website pada tautan https://dev-pantir.geosinyal.id dengan mengisi alamat email: public@geosinyal.id dan password: public.  
  
Dalam kondisi normal, hasil pengukuran alat Pantir akan di-update setiap 10 menit. Namun pada kondisi siaga, hasil pengukuran di-update setiap 5 menit atau bahkan setiap 3 menit.

Pantir dirancang dan dikembangkan di Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI pada tahun 2019.  

Baca juga: Universitas Indonesia UI Terus Komitmen untuk Meningkatkan Mutu dengan Akreditasi Internasional

Pantir mulai diuji coba di lingkungan yang sesungguhnya sepanjang tahun 2020, yaitu di kawasan kampus UI dan Kota Depok.

Memasuki tahun 2021 hingga 2022 pantir juga telah dipasang di tiga sungai di Jawa Barat, yaitu sungai Ciliwung di Kota Depok, sungai Cibeet di Kabupaten Karawang, dan yang terakhir dan baru saja dilakukan adalah di sungai Citengah di Kabupaten Sumedang. 
  
Di dalam teknologi ini tersemat sebuah elektronika digital berupa mikrokontroler 32-bit yang mengendalikan sensor pemantau ketinggian muka air dan sensor intensitas curah hujan.

Data hasil pantauan Pantir dapat disimpan dalam SD-Card ataupun dikirim ke database server melalui jaringan internet.  

Baca juga: Inovasi Universitas Indonesia UI untuk 77 Tahun Indonesia Merdeka: Rafi Ciptakan Aplikasi Flip

Pemantauan oleh pantir dilakukan secara langsung (real time).

“Kelebihan lain dari Pantir adalah adanya fitur receiver GPS sehingga waktu pemantauan (tahun, bulan, hari, jam, menit, detik) tersinkronisasi dengan server maupun stasiun Pantir lainnya,” ujar Kepala Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI tersebut. 
  
Keunggulan lainnya, kata Supriyanto, adalah sumber listrik tenaga surya yang mendayai Pantir membuatnya terbebas dari ketergantungan PLN sehingga pantir dapat ditempatkan di remote area.  
  
Dengan konsumsi daya maksimal 15 Watt, baterai pantir dapat bertahan hingga 3 hari tanpa suplai dari matahari.

Baca juga: Inovasi Universitas Indonesia UI untuk 77 Tahun Indonesia: Propolis Corona dan Keputihan dari Sahlan

Kepala Desa Citengah Sumedang Selatan, Drs. H. Otong Sumarna, M.Pd., menyambut baik pemasangan pantir untuk memantau tinggi air muka sungai Citengah.

Menurutnya sudah 2 tahun belakangan Desa Citengah mengalami bencana banjir bandang akibat luapan sungai.

Sementara, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumedang Drs. Atang Sutarno, M.Si., yang turut mendampingi pemasangan alat Pantir juga menyampaikan rasa terima kasih kepada tim FMIPA UI atas dipilihnya Sumedang, khususnya Desa Citengah, sebagai wilayah mitra lokasi ujicoba. 
  
Dengan terpasangnya pantir, Atang berharap agar BPBD Kabupaten Sumedang dapat mengoptimalkan pemantauan pergerakan tinggi muka air sungai Citengah, dan potensi bencana lainnya di seluruh wilayah Kabupaten Sumedang.   
 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved