Kriminalitas
Sepak Terjang Brigjen Pol Andi Rian Djajadi, Berdarah Bugis dan Senior Irjen Ferdy Sambo
Brigjen Pol Andi Rian Djajadi, berdarah Bugis dan senior Irjen Ferdy Sambo. Andi Rian merupakan alumni Akpol Angkatan 1991.
Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Sepak terjang Brigjen Pol Andi Rian Djajadi, berdarah Bugis dan senior Irjen Ferdy Sambo.
Tim Inafis dan Puslabfor Mabes Polri mendatangi kediaman Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Sabtu (23/7/2022).
Mereka datang untuk melakukan prarekonstruksi kasus polisi tembak polisi di rumah dinas Irjen Pol Ferdy Sambo.
Baca juga: Awasi Penyelidikan Kasus Penembakan Brigadir Yosua, Kompolnas Datangi Rumah Dinas Irjen Ferdy Sambo
Dalam kasus polisi tembak polisi tersebut Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J ditemukan tewas dengan berbagai kejanggalan.
Peristiwa tersebut juga membuat sejumlah pejabat dinonaktifkan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Mereka yang dinonaktifkan dari jabatannya adalah Karo Paminal Div Propam Polri Brigjen Pol Hendra Kurniawan dan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto.
Dalam prarekontruksi tersebut dipimpin Brigjen Pol Andi Rian Djajadi. Brigjen Andi Rian Djajadi merupakan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri.
Baca juga: Brigjen Andi Rian Djajadi Pimpin Pra-Rekonstruksi Kasus Penembakan di Rumah Dinas Irjen Ferdy Sambo
Jenderal bintang satu tersebut juga dikenal tegas. Lalu, sepak terjang apa yang membuat Brigjen Andi Rian yang memimpin prarekontruksi tersebut?
Dilansir dari Tribunnews.com, Brigjen Pol Andi Rian Djajadi merupakan alumni Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1991.
Secara angkatan Brigjen Andi Rian senior Ferdy Sambo yang berpangkat Inspektur Jenderal. Sebab, Ferdy Sambo merupakan alumni Akpol angkatan 1994
Ia juga pernah mengemban jabatan penting di Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut).
Di antaranya adalah Kasat Res Narkoba Poltabes Medan, Kapolres Tebingtinggi, dan Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut.
Kemudian Andi Rian juga pernah mengemban tugas sebagai Wadirtipidum Bareskrim Polri dan Dirkrimum Polda Sumut.
Andi Rian dimutasi ke Mabes Polri di masa Kapolri Jenderal Idham Azis. Andi Rian menjabat Karokorwas PPNS Bareskrim Polri yang sebelumnya dijabat Ferdy Sambo.
Sedangkan Ferdy Sambo diangkat menjadi Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri.
Dalam perjalanan kariernya Andi Rian pun mengisi posisi Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri yang sebelumnya dijabat Ferdy Sambo.
Irjen Ferdy Sambo kemudian diangkat sebagai Kadiv Propam Polri.
Sepak Terjang Brigjen Andi Rian
Dikutip dari Tribun Medan, Brigjen Andi Rian terbilang sukses dalam menjalankan tugas. Dia pernah meringkus konglomerat Mujianto, pengusaha properti Kota Medan, tersandung kasus dugaan penipuan yang dilakukan Mujianto.
Kasusnya berawal dari ajakan kerjasama melalui stafnya yang diketahui bernama Rosihan Anwar untuk melakukan bisnis penimbunan lahan seluas 1 Ha atau setara 28.905 M3 di atas tanah lahan di Kampung Salam, Kelurahan Belawan II, Kecamatan Medan Belawan sekitar Juli 2014 lalu.
Akibatnya kerugian material ditaksir mencapai sebesar Rp 3,5 milliar.
Selain itu, Brigjen Andia Rian juga berhasil membongkar kasus pembunuhan Hakim Jamaluddin.
Pembunuhan terhadap hakim tersebut dilakukan di Cafe Every Day, Jalan Gagak Hitam, Medan, Senin (13/1/2020) lalu.
Baca juga: Diperiksa 12 Jam Sebagai Tersangka, Roy Suryo Sempat Pingsan hingga Muntah di Ruang Penyidik
Disebutkan bahwa di lokasi itulah Zuraida Hanum, M Jefri Pratama dan M Reza Fahlevi merencanakan pembunuhan.
Kemudian jasad Hakim Jamaluddin dibuang di dasar jurang Desa Kutalimbaru, Deliserdang, di dalam Toyota Prado BK 77 HD.
Peristiwa terjadi pada 28 November 2019 dan jenazah ditemukan pada 29 November 2019.
Selanjutnya adalah Brigjen Andi Rian memimpin proses hukum kasus bentrok FPI dengan polisi.
Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Karawang menggelar rekonstruksi bentrokan antara enam anggota laskar FPI dengan Polri di Jalan Tol Jakarta-Cikampek.
Dari rekonstruksi itu, enam anggota laskar FPI itu diketahui ditembak di tempat yang terpisah.
Adapun rekonstruksi ini dilakukan di empat TKP yang berbeda dimulai pada TKP I di depan Hotel Novotel, Jalan Karawang Internasional.
Baca juga: Citayam Fashion Week Bikin Polemik, Jakarta Watch : Langgar Undang-Undang Lalin dan Angkutan Jalan
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, menyampaikan TKP pertama menunjukkan awal mula Polri terlibat bentrok dengan FPI.
Dari TKP 1 itu utamanya terjadi penyerangan anggota Polri sehingga anggota Polri dalam hal ini penyidik melakukan pengejaran, melihat gelagat dari pelaku yang mencoba mengarahkan tembakannya kepada petugas daripada didahului dilakukan tindakan tegas.
Menurut Andi, aksi kejar-kejaran itu melewati bundaran Jalan Karawang Internasional hingga Gerbang Tol Karawang Barat arah Cikampek ke Rest Area KM 50.
Kedua tempat ini menjadi TKP 2 dan TKP 3.
Di TKP 3, kata Andi, mobil yang ditumpangi oleh laskar FPI itu pun berhasil diamankan. Namun ternyata, hanya 4 orang yang masih dalam kondisi hidup.
Baca juga: Gelar Pra-Rekonstruksi, Penyidik Bareskrim Polri Kembali Sambangi Rumah Ferdy Sambo
Sementara itu, 2 orang laskar FPI telah dalam kondisi luka saat terlibat baku tembak dengan polisi dalam perjalanan TKP 2 menuju TKP 3.
Menurut Brigjen Andi Rian, 4 orang tersangka disebut mencoba melakukan perlawanan saat di tol Jakarta-Cikampek selepas rest area KM 50 hingga KM 51+200 yang menjadi TKP 4.
Alhasil, keempatnya ditembak oleh penyidik. Namun, tidak dijelaskan ihwal berapa kali penyidik Polri melakukan penembakan kepada keempat laskar FPI yang dieksekusi di jalan tol Jakarta-Cikampek KM 50 sampai dengan 51+200 tersebut.
Baca juga: Perhatian Warga Jakarta, Tiga Jalan di Kawasan Sunter Bakal Ditutup Sementara Selama Peresmian JIS
Dalam rekonstruksi digelar secara transparan ke masyarakat. Kemudian menghadirkan saksi sebanyak 28 orang.
Bahkan, empat di antaranya merupakan polisi yang terlibat bentrokan dengan FPI pada insiden tersebut pecah.
Adapun barang bukti yang dihadirkan pada rekonstruksi di antaranya dua unit mobil anggota, satu unit mobil tersangka, enam pasang pakaian tersangka, senjata tajam, dan dua senjata api rakitan peluru 9 MM.
Berasal dari Sulawesi
Brigjen Andi Rian Djajadi dan Irjen Ferdy Sambo sama-sama dari Sulawesi. Andi Rian berdarah Bugis. Dia alumni Sekolah Menengah Pertama (SMA) I di Kota Makassar.
Sedangkan Ferdy Sambo lahir di Barru, Sulawesi Selatan. Orangtuanya adalah Mayor Jenderal Polisi (Purn.) Pither Sambo.
Bapak tiga orang anak ini lahir 49 tahun yang lalu di Barru, Sulawesi Selatan tepatnya pada 9 Februari 1973.
Jenderal bintang dua ini menikah dengan seorang dokter gigi bernama Putri Candrawathi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Brigjen-Andi-Rian-2.jpg)