Breaking News:

Berita UI

Dies Natalis Psikologi Universitas Indonesia, dr Agustin Kusumayati Sebut Saatnya No 1 di Asia

Sekretaris UI dr Agustin Kusumayati sebut saatnya No 1 di Asia. Hal itu disampaikan di Dies Natalis ke-62 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Dies Natalis Psikologi Universitas Indonesia, dr Agustin Kusumayati Sebut Saatnya No 1 di Asia 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Dies Natalis Psikologi Universitas Indonesia, dr Agustin Kusumayati Sebut Saatnya No 1 di Asia.

Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami paling tidak 1 kali kekerasan fisik ataupun kekerasan seksual dalam hidupnya (WHO, 2021).

Di Indonesia, data yang didapat dari hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa 1 dari 3 perempuan berusia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual oleh pasangannya ataupun orang lain dalam hidupnya.

Baca juga: Universitas Indonesia Terima 5.299 Mahasiswa Baru di Simak UI 2022, Kedokteran dan Hukum Terfavorit

Kemudian 1 di antara 10 perempuan pada rentang usia 15-64 tahun mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.

“Kekerasan berbasis gender adalah salah satu bentuk kekerasan yang terjadi di seluruh belahan dunia tanpa terkecuali. Sebagai Fakultas Psikologi tertua di Indonesia, Psikologi UI bisa terus menjadi yang terdepan," kata Dr. Livia D.F. Iskandar, M.Sc., Psikolog

"Terdepan sebagai pelopor dalam menelurkan psikolog-psikolog terbaik yang dapat turun ke masyarakat untuk berperan secara aktif dalam berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia,” tambahnya dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-62 F.Psikologi UI berjudul “Kontribusi Psikologi dalam Menghasilkan Kebijakan Publik yang Berorientasi Kesehatan Mental”.

Dr. Livia menjelaskan, memberikan perlindungan saksi dan korban merupakan pekerjaan panjang dan sunyi yang membutuhkan berbagai usaha untuk melintas pulau dan lautan lepas serta jalan tak beraspal di tengah kegelapan malam di daerah terpencil di kepulauan Indonesia.

Saksi dan korban kerap mengalami ancaman, baik secara aktual ataupun berupa potensi ancaman, dan juga yang berbentuk intimidasi secara psikologis terhadapnya atau keluarganya oleh keluarga pelaku dan/atau anggota masyarakat lain yang berpihak pada pelaku.

“Pada perkara dengan pelaku oknum pejabat publik/tokoh masyarakat, bahkan seluruh instansi/pengikutnya akan mencoba segala cara agar pelaku tidak ditahan seperti yang saat ini sedang terjadi di Jawa Timur. Banyak pelaku yang melakukan pelaporan balik terhadap korban agar korban tidak melanjutkan perkaranya ke ranah hukum pidana. Parahnya adalah seringkali pelaporan balik tersebut diproses lebih cepat dibandingkan dengan tindak pidananya,” ujar alumni F. Psikologi UI angkatan 1988 ini.

Baca juga: Pakar Sosiologi Universitas Indonesia UI Meuthia Ganie Rochman Keras Bicara Korupsi Raih Penghargaan

Menurutnya, perspektif psikologi amat dibutuhkan bagi negara, terutama untuk mendorong evidence-based government, sehingga kebijakan disusun dan dikeluarkan tidak semata-mata karena pertimbangan politik, namun juga mengakomodasi berbagai pandangan keilmuan secara luas, termasuk ilmu perilaku. 

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved