Penelitian UI

Peneliti UI Sampaikan Cara Atasi Mafia Pangan untuk Hindari Krisis dan Penciptaan Iklim Bsinis Sehat

Universitas Indonesia gelar konferensi internasional untuk menyampaikan ide untuk memperkuat peran Indonesia dalam Presidensi G20.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Universitas Indonesia (UI) menggelar konferensi internasional untuk dukung Indonesia di G20. Peneliti Ratih Dyah Kusumastuti sampaikan atasi masalah krisis pangan. 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Peneliti UI Sampaikan Cara Atasi Mafia Pangan untuk Hindari Krisis dan Penciptaan Iklim Bsinis Sehat

Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan konferensi internasional yang bertujuan sebagai forum pertukaran ide, pada 15-16 Juni 2022.

Hal tersebut dilakukan untuk memperkuat peran Indonesia dalam Presidensi G20.

Konferensi tersebut dilaksanakan secara hybrid dan mempertemukan para ilmuwan dan pemangku kebijakan untuk bersama-sama merumuskan policy brief dalam mendukung Presidensi G20 2022.

Baca juga: Menteri BUMN Erick Thohir: Tahun 2045 Indonesia Jadi Negara Maju ke-4 di Dunia, Ini Kata Rektor UI

Sejumlah isu pun dalam pembahasan. Salah satunya adalah transformasi digital dan ekonomi.

Disebutkan bahwa masa pandemi Covid-19 menimbulkan kompleksitas dan ketidakpastian pada rantai pasok pangan pertanian.

Terutama pada bahan pangan pokok yang menjadi lebih tinggi akibat adanya berbagai pembatasan sosial yang menyebabkan terganggunya aktivitas produksi dan distribusi, serta berakibat pada krisis pangan.

Hal tersebut disampaikan Ratih Dyah Kusumastuti, S.T., M.T., Ph.D., dalam pemaparannya terkait dengan digitalisasi rantai pasok bahan pangan pokok untuk meminimalkan dampak disrupsi.

Baca juga: Dukung G20 Presidensi, UI Serahkan Bus Listrik Karya Anak Bangsa ke Pemerintah

Ratih menambahkan bahwa pada tahun 2021, Indonesia menempati urutan ke 69 dari 113 negara pada Global Food Security Index (The Economist Group, 2022), dengan skor keseluruhan sebesar 59,2, turun sebesar 2,2 poin dari tahun 2020.

"Disrupsi pada rantai pasok pangan pertanian, terutama pada pangan pokok berdampak signifikan pada keamanan pangan dan hajat hidup masyarakat,” ujar Ratih.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved