Bima Arya Sebut Jakarta Tak Akan Jadi Sentra Bisnis dan Wisata Bila Hal Ini Masih Dilakukan

Hal itu diungkapkan Bima Arya di acara webinar  Jakarta Masa Depan, Pemindahan Ibu Kota dan Tinjauan Dalam Perspektif Pemda se-Jabodetabek

Penulis: murtopo | Editor: murtopo
YouTube Warta Kota
Bima Arya di acara webinar Jakarta Masa Depan, Pemindahan Ibu Kota dan Tinjauan Dalam Perspektif Pemda se-Jabodetabek yang digelar Warta Kota Senin (23/5/2022) siang. 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM -- Wali Kota Bogor Bima Arya menilai bahwa Jakarta tidak akan menjadi Kota bisnis dan pariwisata yang baik bila tidak belajar dari pengalaman dalam hal koordinasi antar wilayah.

Kata Bima, selama tidak ada perubahan dalam cara pandang penangan Jabodetabek secara terkoordinasi maka tidak akan bisa Jakarta jadi sentra bisnis dan wisata.

Hal itu diungkapkan Bima Arya di acara webinar  Jakarta Masa Depan, Pemindahan Ibu Kota dan Tinjauan Dalam Perspektif Pemda se-Jabodetabek yang digelar Warta Kota Senin (23/5/2022) siang.

Kata Bima Arya magnet Jakarta sebagai kota metropolitan akan semakin lebih kuat pasca tidak jadi ibu kota
karena selama ini sebagai ibu kota negara, Jakarta agak ribet mengatur dimensi ekonomi dan politik.

"Bagaimana jakarta pasca tidak jadi ibukota dan apakan akan ada dampaknya? Pasti akan ada dampaknya. Bila beban politiknya berkurang maka beban Jakarta akan berkurang, yang pasti Jakarta ke depan Jakarta yang lebih menitikberatkan pada kota bisnis, kota perdagangan jasa dan pariwisata," ujar Bima Arya.

Kata Bima Arya ketika beban berkurang lahan milik pemerintah pusat yang ditinggalkan bisa digunakan menjadi ruang terbuka hijau, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang siftanya green ekonomi.

Tapi kata Bima Arya hal itu tidak akan terjadi bila Jakarta dan wilayah penyangga lainnya tidak belajar dari pengalaman.

Baca juga: Wali Kota Bogor Bima Arya Menilai Magnet Jakarta Akan Semakin Kuat Pasca Tidak Jadi Ibu Kota Negara

"Apa itu? Yaitu persoalan integrasi, ada badan koordinasi Jabodetabek kita sering bertemu untuk membahas kebijakan-kebijana tapi tidak pernah maksimal, bila musim banjir tiba masalahnya sama usulannya sama. Bosan selalu seperti itu maka itu cara pandangnya harus berbeda," ujar Bima Arya.

Kata Bima, selama tidak ada perubahan dalam cara pandang penangan Jabodetabek secara terkoordinasi maka tidaka akan bisa Jakarta jadi sentra bisnis dan wisata.

"Jadi yang penting pembenahan secara lebih terintegrasi ini yang harus dikuatkan. Opsinya badan khusus yang menangani ini, tapi saya kira sangat wajar ada menteri khusus yang mengusursi Jabodetabek. Di sinilah perencanaan ditetapkan kewenangan diatur dan anggaran dialokasikan, tidak andalkan hibahlagi, ujarnya.

Baca juga: Wali Kota Depok Mohammad Idris lebih Suka Depok Gabung ke Jakarta Pasca Tidak Lagi Jadi Ibu Kota

Bima arya mengunkapkan salah satu masalah yang kerap terjadi dalam koordinasi, salah satunya masalah banjir yang mana selama ini wilayah Bodetabek mengajukan proposal untuk mendapatkan dana hibah untuk penanganan banjir.

"Bukan lagi praktek Bodetabek melakukan proposal minta bantuan lalu Jakarta memberi asesmen kemudian memberikan bantuan suka-suka Jakarta. Bantuannya dikasih berapa dan ke mana dan harus sesuai kepentingan Jakarta. Ini bukan masalah Jakarta ini adalah soal kepentingan Megapolitan. Kita bicara kawasan Megapolitan terbesar di dunia, dengan lebih30 juta warga Bodetabek,  ini sudah menyalip Tokyo. Potensi yang besar ini, potensi aktivitas ekonomi PAD dan pertumbuhan ekonominya yang bisa mengangkat pertumbuhan nasional tapi tidak maksimal karena cara pandang yang parsial, ujarnya.

Baca juga: Membahas Nasib Jakarta Setelah Tidak Lagi Berstatus Ibu Kota dalam Perspektif Pemda se-Jabodetabek 

Kata Bima Arya ada sejumlah yang terjadi selama ini yang harus dibenahi, di antaranya adalah masalah kewenangan, penganggaran, dan perencanaan.

Terkait perencanaan, kata Bima Arya bila perencanaannya tidak antara Jakarta dan kota penyangga lainnya, maka akan saling bertabrakan.

"Sebagai contoh bila transportasi di Jakarta berbeda rencana induk pengembangannya dengan Bodetabek ya percuma saja. Kita sudah pengalaman beberapa kali muncul unit ini unit itu, program ini itu. Bagi jakarta mungkin bermanfaat tapi bagi yang lain barangkali tidak kita sudah merasakan itu,  ujar Bima Arya.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved