Kesehatan
Pemerintah Indonesia Perlu Perkuat Biosurveillance untuk Deteksi Penyebaran Penyakit
Pemerintah Indonesia Perlu Perkuat Biosurveillance untuk Deteksi Penyebaran Penyakit
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia dinilai perlu memperkuat biosurveillance untuk mendeteksi penyebaran penyakit.
Hal ini berkaca pada pagebluk Covid-19 yang terjadi pada Maret 2020 dan penyebaran hepatitis akut misterius sejak beberapa pekan terakhir.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman mengatakan, langkah memperkuat biosurveillance sangat penting, sehingga penyakit menular maupun penyakit lainnya yang menyerang masyarakat secara misterius dapat terdeteksi lebih dini.
Saat ini ada keterbatasan untuk mendeteksi melalui serangkaian tes maupun kesadaran masyarakat terhadap penyakit, sehingga kasusnya berpotensi meluas.
“Jelas ini ada ketelatan karena seringkali tadi di awal saya sampaikan sebagian masyarakat kita bisa salah menginterpretasikan antara penyakit kuning biasa dengan hepatitis misterius ini,” kata Dicky pada Sabtu (7/5/2022).
Dicky mengungkapkan, di negara-negara maju yang memiliki deteksi surveillance baik, tentu mereka mampu mendeteksi penyakit tersebut lebih awal.
Mereka akan bergerak responsif begitu melihat ada penyakit tidak biasa yang menyerang pasien di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan (faskes) lainnya.
“Biosurveillance itu penting dan berasal dari RS dan fasilitas kesehatan untuk membangun itu. Ini pesan pentingnya, bagaimanapun deteksi dini itu mesti dibangun, jangan dianggap ini tes untuk Covid-19,” ujarnya.
Baca juga: Epidemiolog Minta Warga Waspada terhadap Hepatitis Akut, Jadi Kasus Serius
Baca juga: KPBB Ungkap Solusi Cegah Kematian karena Gas Buang Kendaraan saat Mudik
“Membangun surveillance tuh seperti ini persoalan seperti ini ke depan akan bisa lebih baik. Kalau tidak seperti ini kita akan tertinggal dan SDM kita akan menurun dan kita akan bisa akan banyak jatuh korban,” sambungnya.
Selain itu, kata Dicky, program vaksinasi hepatitis bagi anak-anak juga harus tetap berjalan meski langkah tersebut belum 100 persen terbukti mencegah penyakit hepatitis akut misterius ini.
Namun tidak ada salahnya memberikan perlindungan kepada anak melalui imunisasi hepatitis.
“Ini kan belum terbukti tapi semua program penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi dan vaksinasi itu nggak boleh kendor. Jangan sampai di tengah pandemi ini bermunculan wabah-wabah seperti ada campak, difteri, nah ini seperti terjadi di Jepang,” katanya.
Dikutip dari kompas.com, tiga anak yang dirawat di RSCM Jakarta Pusat meninggal dunia diduga karena hepatitis akut yang saat ini masih misterius.
Sebelumnya, kasus hepatitis akut yang misterius ini juga menimpa sejumlah anak di beberapa negara Eropa dan Asia.
Tiga pasien yang meninggal di Jakarta tersebut meninggal dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022. Pihak Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, hepatitis akut misterius tersebut belum diketahui penyebabnya.
Kemenkes masih melakukan investigasi mengenai penyebab kejadian hepatitis akut misterius tersebut melalui sejumlah pemeriksaan panel virus lengkap.
“Selama masa investigasi, kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tetap tenang,” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, dalam keterangan resmi pada Minggu (1/5/2022)
Pihaknya menyebutkan, ketiga pasien yang meninggal ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.
Nadia mengatakan, Kemenkes meningkatkan kewaspadaan dalam dua minggu terakhir usai Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak yang belum diketahui penyebabnya ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Nadia mengingatkan, orangtua perlu mewaspadai penyakit hepatitis akut misterius ini dengan mengamati sejumlah gejala.
Sejumlah gejala yang timbul pada kasus hepatitis akut misterius pada anak yang tak diketahui penyebabnya ini yakni, gejala kuning, sakit perut, muntah, diare mendadak, buang air kecil berwarna kuning tua, buang air besar berwarna pucat, kejang dan penurunan kesadaran.
“Apabila anak mengalami gejala-gejala tersebut, orangtua diminta untuk segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Ilustrasi-Hepatitis-A.jpg)