Jumat, 1 Mei 2026

Universitas Indonesia

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Imbau Rumah Sakit Selektif Terima Pasien Covid-19

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Imbau Rumah Sakit Selektif dalam Menerima Pasien Covid-19. Berikut Selengkapnya

Tayang:
Penulis: Alex Suban | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Covid-19 Varian Omicron 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Iwan Ariawan mengimbau kepada tiap rumah sakit di Kota Depok untuk selektif dalam menerima pasien Covid-19.

Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi penumpukkan pasien Covid-19 di rumah sakit. Iwan menilai, rumah sakit sebaiknya diprioritaskan untuk pasien dengan gejala sedang, berat dan kritis.

Sementara, warga yang terpapar dengan gejala ringan dianjurkan untuk menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Iwan menambahkan, jika ada warga dengan gejala ringan yang tidak bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, bisa menginap di lokasi isolasi terpusat seperti Pusat Studi Jepang Univesitas Indonesia (UI).

"Jadi Pemkot Depok harus menyediakan itu tempat isolasi di luar rumah sakit supaya rumah sakitnya gak penuh," kata Iwan saat dihubungi pada Selasa (8/2/2022).

Selain menyediakan lokasi isolasi terpusat, Pemkot Depok rencananya akan mendirikan lokasi isolasi terpusat berbasis masyarakat di tiap kecamatan.

Namun, rencananya itu belum bisa dilaksanakan karena sejumlah warga menolak wilayahnya dijadikan lokasi isolasi.

Baca juga: Identitas Korban Ledakan Mobil Camry Terungkap, Rupanya AKP Novandi Arya-Anak Gubernur Kaltara

Baca juga: Harapan Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto di Peringatan Hari Pers Nasional 2022

Menanggapi hal tersebut, Iwan berharap agar Pemkot Depok bisa bekerja sama dengan pengusaha hotel. Hotel itu nantinya bisa difungsikan sebagai lokasi isolasi.

"Jadi pemerintah dalam hal ini pemkot depok harus menyediakan hotel-hotel untuk isolasi," harapnya.

Perihal adanya sejumlah warga yang menolak wilayahnya untuk dijadikan lokasi isolasi, Iwan merasa maklum karena ada rasa khawatir yang timbul dari pihak warga.

Namun, di sisi lain, Iwan menjelaskan, jika nantinya ada satu rumah di lingkup RT yang dijadikan lokasi isolasi berbasis masyarakat, warga tak perlu menaruh curiga.

Pasalnya, kecil kemungkin terjadi klaster penyebaran apabila isolasi dilakukan dengan pengawasan dari pihak RT setempat.

"Jadi kalau di satu RT, satu rumah misalnya dipakai untuk isolasi. Gak masalah, rumah yang ada disebelahnya gak akan ketularan kok kalau prokesnya dilakukan secara baik. Tapi memang bener isolasi ya, gak keluar-keluar," paparnya.

Masih menurut Iwan, potensi penularan terjadi apabila ada kontak erat dari warga terpapar dan kelonggaran protokol kesehatan di lokasi kerumunan.

"Dalam kondisi nafas dan ngomong biasa, bukan teriak atau nyanyi itu potensi penularannya kecil jika kita menggunakan masker, walau ada warga terpapar yang jaraknya hanya satu meter dari kita," pungkas Iwan. 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved