Selasa, 19 Mei 2026

PON XX Papua

Cerita Atlet Wushu Abdul Harris Sofyan, Pernah Jadi Tukang Parkir dan Cuci Piring

Pada tahun 2011 ia mengikuti latihan Wushu sampai akhirnya ia mendapat kesempatan mengikuti PON di Riau 2012.

Tayang:
Editor: murtopo
Wartakotalive.com/Mifthaul Munir
Atlet Wushu Abdul Harris Sofyan. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Mifthaul Munir

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, TANAH ABANG - Peraih mendali emas PON XX Papua 2021 cabang olahraga Wushu, Abdul Harris Sofyan memiliki cerita yang tidak diketahui banyak orang.

Harris lahir di Desa Pemana, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 10 November 1993 silam.

Ayahnya sudah Almarhum bernama Ode Bisri dan ibunya bernama Nurjanah Wati.

Sejak kelas satu SD, Harris sudah ditinggal merantau oleh orang tuanya dan ia dititipkan di rumah sang kakek di Sulawesi Tenggara.

Harris terpaksa ditinggal merantau jauh dari orang tuanya karena memang terdesak kebutuhan ekonomi.

TRIBUNNEWS LIVE PON XX PAPUA SIANG : RABU 12 OKTOBER 2021

Harris tidak permasalahkan harus tinggal bersama sang kakek dan tantenya di sana.

Baca juga: Kalah di Final Cabor Voli PON XX Papua, Pelatih Voli Putra DKI Jakarta Akui Kekuatan Jawa Barat

Di masa kanak-kanak hingga remaja, ia merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua dan tantenya.

Demi mencari kesibukan di masa remaja, Harris harus pergi ke Pelabuhan di Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan uang.

Akhirnya, kedua orang tua Harris selesai merantau dan kembali ke NTT, ia pun dijemput untuk tinggal bersama dengan orang tuanya lagi

Tapi hal itu justru tidak membuat Harris menyelesaikan pendidikan di SMP.

"Tidak lama dijemput sekira dua bulan di NTT, saya kabur ke Surabaya naik kapal laut," kata Harris kepada Wartakotalive.com, Rabu (13/10/2021).

Baca juga: Sumbang Emas untuk Jawa Barat di PON XX Papua Lewat Cabor Voli Putri, Wilda Berlinang Air Mata

Harris tidak memiliki persiapan untuk kabur, ia hanya membawa pakaian yang dikenakan tanpa memiliki uang.

Selama lima hari perjalanan di Kapal, Harris bertahan hidup di atas kapal memakan sisaan dari penumpang lain yang tidak habis disantap.

Harris tidak mau mati kelaparan, hal itu terpaksa ia lakukan agar sampai ke Kota tujuan tempat dia kabur.

Lima hari perjalanan, akhirnya Harris tiba di Surabaya dan dia makin kebingungan harus apa, ke mana serta ke siapa.

Harris mengaku tidak memiliki saudara ataupun teman di Surabaya, ketika itu usianya baru sekira 14 tahun.

Tidak disangka, ketika ingin merantau ke Jakarta, ia bertemu seorang pria dewasa bernama Jerry yang merupakan petugas keamanan di salah satu ruko kawasan Harmoni.

Baca juga: Atlet Kabupaten Bogor Sumbang 28 Medali Emas PON XX Papua, Ini Kata Bupati Ade Yasin

Ia bertemu di stasiun yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Di Harmoni Harris tidur di depan pintu ruko orang lain beralaskan kardus, kemudian setiap pagi dia membantu ibunya Jerry berjualan nasi uduk.

"Itulah ibu angkat pertama saya di Jakarta, saya bantuin cuci piring karena dia jualan nasi uduk setiap pagi di ruko itu," ucap dia.

Kemudian ia juga menjadi tukang parkir di kawasan ruko tersebut demi mendapat uang untuk bertahan hidup.

Karena Jerry kasihan melihat Harris tidak jelas masa depannya, akhirnya ia ditawarkan untuk berlatih tinju.

Harapan Jerry pada saat itu adalah ingin anak remaja yang dibawanya dari Surabaya itu sukses di Jakarta.

Baca juga: Ricuh di Pertandingan Gulat PON XX Papua, Ketua PGSI: Tak Puas Lanjut ke Badan Arbitrase

Harris dikenalkan dengan temannya Jerry bernama Ibrahim Marobi untuk latihan tinju demi masa depan yang cerah.

Awalnya Harris menolak untuk latihan tinju lantaran merasa takut dan seram menjadi atlet tinju.

Tapi karena ada pertimbangan lain, akhirnya Harris memutuskan ikut Ibrahim Marobi untuk berlatih tinju.

Harris langsung diperkenalkan dengan pelatih tinju dan ia tinggal di mes atlet tinju.

Tapi karena pelatih ini melihat bakat Harris bukan ditinju, ia kemudian diajak untuk melihat pertandingan Wushu.

Awal melihat pertandingan itu, ia merasa tertarik dan ingin menjadi atlet Wushu.

Baca juga: Perjuangan Peselam DKI Jakarta Raih Emas PON XX Papua, Terhalang Sampah di Laut Hingga Kaki Kram

Pada tahun 2011 ia mengikuti latihan Wushu sampai akhirnya ia mendapat kesempatan mengikuti PON di Riau 2012.

Minimnya pengalaman di pertandingan Wushu tingkat nasional, Harris gagal membawa mendali pada saat itu.

Tapi itu bukan menjadi sebuah halangan bagi Harris untuk terus mengembangkan ilmunya di cabang olahraga Wushu.

Karena pertandingan pertama itu ia belum terlalu menguasai teknik bertahan, menendang dan membanting lawan.

Aris juga pernah cidera dipinggangnya selama mengikuti olahraga Wushu.

"Itu saya awal latihan sekira usia 17 tahun, belatih di Bekasi terus dapat kesempatan mewakili Jakarta sampai sekarang, 2017 saya mendali perunggu, 2018 mendali emas dan 2020 mendali emas," jelasnya.

Usai Jadi Atlet Wushu, Harris Bertemu Keluarga

Delapan tahun merantau Harris kembali bertemu keluarganya di tahun 2015 lalu.

Pada saat itu, Asisten pelatihnya sedang pergi ke Sulawesi Tenggara dan ia ditelepon untuk menanyakan alamat rumah keluarga di sana.

Beruntung Harris masih mengingat nama jalan dan toko usaha keluarganya di sana yang terkenal.

Namun, ketika tiba di rumah sang kakek, keluarganya sudah pindah tempat tinggal.

Asisten pelatih terus melakukan pencarian dan didapatlah nomor keluarga Harris di sana.

Keluarga di Sulawesi Tenggara sempat tidak percaya kalau Harris masih hidup karena sudah delapan tahun tidak ada yang mengetahui rimbanya.

"Pas saya ditelepon, saya ditanya-tanya karena mereka enggak ada yang percaya, saya ceritain pengalaman waktu kecil dan mereka percaya," ucapnya.

Dari keluarga di Sulawesi Tenggara, Harris akhirnya di tahun yang sama pulang ke rumah orang tuanya di NTT.

Pertemuan pertama penuh harus karena rindu mendalam dari sang ibu yang tidak dapat ditahan-tahan lagi.

Ia bercerita soal karirnya sebagai atlet Wushu dan orang tuanya hanya dapat mendukung karir sang anak.

Namun kata Harris, jika dari awal tahu, maka ia tidak bakal diizinkan untuk menjadi atlet Wushu.

"Ya sekarang harapan saya bisa ikut Pelatihan Nasional untun mewakili Indonesia, kemudian juga saya mau minta kerjaan sama KONI supaya ada penghasilan tetap," ungkap dia.

November 2021 Lepas Lajang

Usianya kini sudah 28 tahun, Harris bakal melepas lajang, menikahi atlet Wushu wanita bernama Nurhandayani.

Keduanya sudah menjalin asmara selama 10 tahun dan keduanya sudah mantap untuk menikah.

Apalagi kata Harris, calon istrinya bakal gantung pakaian Wushu lantaran pertandingan PON 2020 Papua kemarin adalah yang terakhir.

Rencanaya Nurhandayani ingin membuka kafe di Jakarta agar teman-temannya bisa nongkrong di tempatnya.

"Tapi kemarin dia tidak meraih mendali emas, dia keturunan Jakarta dan Medan," katanya.(m26)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved