Kesehatan

Inilah Tanda-tanda Alami Cedera Usai Berolahraga, Tak Boleh Dianggap Enteng Bisa Berbahaya

Tak boleh dianggap enteng bisa berbahaya. Inilah tanda-tnada seseorang alami cedera usai berolahraga.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
TribunnewsDepok.com/Dodi Hasanuddin
Inilah Tanda-tanda Alami Cedera Usai Berolahraga, Tak Boleh Dianggap Enteng Bisa Berbahaya. 

Kalau nyeri tetap terasa meski kita telah beristirahat atau bila nyeri sangat terasa, sebaiknya segera berkonsultasi kepada dokter. Dengan penanganan yang tepat, kita bisa pulih dari cedera dan beraktivitas olahraga lagi seperti sedia kala.

Baca juga: Gandeng BUMN IFG Holding, JMI Gelar Donasi Pendidikan untuk Anak Nelayan Pulau Tunda

Pengobatan cedera sendiri dibagi dua, operasi atau tanpa operasi. Tujuan pengobatan secara garis besar adalah mengembalikan ke level aktivitas semula, apapun cederanya.

Namun tentu saja, lebih baik mencegah daripada mengobati. Disarankan untuk mengenali diri kita, cari olahraga yang cocok dengan kondisi kita. Apakah kita punya hipertensi, jantung, atau penyakit lainnya?

“Tidak hanya ikut-ikutan tren. Misalnya, orang gemuk ikut lari, karena akan rentan cedera lutut,” sarannya.

 

 

Olahraga lari bagi penderita obesitas bisa membahayakan atau menimbulkan cidera pada sendi lutut. Perlu dipahami juga olahraga yang terlalu intens juga bisa membahayakan jantung.

Sementara itu, dr. Jefri Sukmawan, Sp. OT, menambahkan untuk mewaspadai kondisi kaku disertai nyeri pada sendi bahu sehingga membuat bahu sulit bergerak.

Gangguan ini akibat proses radang yang terus-menerus.

“Lama-lama ruang kapsul sendi akhirnya menyempit dan terjadi perlengketan yang disertai rasa nyeri,” jelas dokter spesialis bedah orthopedi (shoulder specialist) RS Premier Bintaro, ini.

dr. Jefri Sukmawan, Sp.OT (K), dokter spesialis bedah orthopedi (shoulder specialist) RS Premier Bintaro
dr. Jefri Sukmawan, Sp.OT (K), dokter spesialis bedah orthopedi (shoulder specialist) RS Premier Bintaro (TribunnewsDepok.com/Dodi Hasanuddin)

Gangguan ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Umumnya berlangsung dalam beberapa fase. Pertama, penderita merasakan pegal, berlanjut menjadi nyeri dalam beberapa minggu hingga bulan.

Fase berikutnya, sulit menggerakkan lengan atas sehingga terjadi keterbatasan gerak hampir ke segala arah (depan, samping, memutar, bahkan kesulitan menggaruk punggungnya). Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan bila tidak diterapi dengan tepat.

Baca juga: Dieng Kulon Terpilih Jadi 50 Desa Wisata Terbaik, Sandiaga Uno: Buka Lapangan Kerja Bagi Anak Muda

Fase akhir, gerakan bahu berangsur-angsur kembali. Namun karena dibutuhkan waktu lama (berbulan-bulan hingga menahun) untuk mencapai fase akhir, umumnya penderita berobat saat melalui fase pertama dan kedua.

Sebagian besar kasus ini biasanya dapat diatasi tanpa dioperasi. Bisa ditangani secara konservatif, seperti minum obat pereda radang, diikuti terapi fisik atau fisioterapi.

“Kunci utama pemulihan adalah mempertahankan gerakan bahu seoptimal mungkin. Penderita juga perlu berperan mandiri dalam melatih pergerakan bahunya secara rutin,” tambah dr. Jefri.

Namun bila tidak kunjung pulih, dapat dibantu dengan terapi operatif, seperti shoulder manipulation dan teknik operasi minimally invasive seperti shoulder arthroscopy.

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved