Pemkot Depok

Banyak Bangunan Bersejarah, Disporyata Depok Ingin Jadikan Kota Depok Heritage Tourism

Tatik menyebutkan sebagai langkah awal rencana pengembangan wisata bersejarah, di awali dahulu dengan pendaftaran obyek diduga cagar budaya.

Penulis: Mochammad Dipa | Editor: murtopo
Warta Kota
Suasana Jembatan Panus yang berlokasi di Jalan Tole Iskandar, Depok. Jembatan Panus merupakan salah satu obyek cagar budaya di Depok yang dibangun sejak kolonial Belanda pada tahun 1917 tahun silam. Jembatan ini akan dipasangi lampu penerangan dan spot foto untuk mengurangi kesan angker pada jembatan tersebut. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Mochammad Dipa

TRIBUNNEWSDEPOK.COM - Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tengah berupaya mewujudkan kawasan wisata bersejarah di Kota Depok.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok Tatik Wijayati kepada Tribunnewsdepok.com, Jumat (24/9/2021).

"Kota Depok akan memploting untuk pariwisata bersejarah yang disebut heritage tourism. Nah ini dimulai untuk penataan obyek yang di duga cagar budaya, terutama yang ada dikawasan jalan Pemuda karena banyak obyek bersejarah, dan juga banyak obyek wisata bersejarah lainnya yang tersebar di Kota Depok," ujarnya.

Menurut Tatik, ada banyak obyek bersejarah di Kota Depok, seperti stasiun kereta api, Jembatan Panus, Rumah Tua di Pondok Cina, dan Rumah Tua Cimanggis yang kini hampir selesai proses revitalisasinya untuk dikembalikan kembali seperti bentuk aslinya di era tahun 1700-an.

Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok Tatik Wijayati menjelaskan tentang pariwisata bersejarah di Kota Depok, Jumat (24/9/2021).
Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok Tatik Wijayati menjelaskan tentang pariwisata bersejarah di Kota Depok, Jumat (24/9/2021). (Tribunnewsdepok.com/Mochammad Dipa)

Tatik menyebutkan sebagai langkah awal rencana pengembangan wisata bersejarah, di awali dahulu dengan pendaftaran obyek diduga cagar budaya (ODCB) ke aplikasi milik Kemendikbud yaitu Registrasi Nasional Cagar Budaya.

Baca juga: Hilangkan Kesan Angker, Pemkot Depok Percantik Jembatan Panus dengan Lampu & Ornamen Instagramable

"Masyarakat boleh mengusulkan sendiri obyek bersejarah untuk diregistrasi nasional. Kalau memang obyek tersebut milik perorangan atau komunitas," ucap Tatik.

Setelah diregistrasi nasional, lanjut Tatik, Disporyata Depok akan memanggil tim ahli cagar budaya (TACB) Kota Depok.

"Kita punya enam orang TACB dimana mereka merupakan ahli sejarah, ahli sosiologi, antropologi, arsitek untuk mengkaji obyek diduga cagar budaya. Setelah dikaji dan masuk kriteria cagar budaya maka bangunan bersejarah tersebut berubah statusnya jadi cagar budaya," ujar Tatik.

Lalu Disporyata membuatkan Surat Keputusan penetapan ODCB menjadi OCB yang ditetapkan oleh Walikota Depok.

Baca juga: Cerita Risya Cahya Fadhila, Sarjana Teknik Metalurgi Material yang Jadi Mpok Depok 2019

"Setelah statusnya berubah ke OCB kita punya kewajiban melestarikan seperti yang diatur dalam undang-undang cagar budaya," ungkap Tatik.

Adapun tindakan pelestarian obyek cagar budaya berupa mengembangkan, memelihara, memanfaatkan dan melakukan pembinaan.

"Contohnya dari hasil revitalisasi Rumah Tua di Cimanggis, itu bisa dimanfaatkan sebagai museum, ruang pameran. Hal itu juga harus dikoordinasikan dengan pemilik obyek bangunan tersebut dan Pemkot Depok yang nantinya akan simultan dilakukan pemeliharaan," sebut Tatik.

Semoga di depok juga seperti kabupaten lain yang punya gedung tua, kota lama, kota tua yang bisa digunakan menjadi mensupport wisata kota depok.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved